January 16, 2017


"No one warned us"
"No one has ever trained for incident like that"

Potongan kisah nyata Kapten "Sully" Sullenberger di atas mengingatkan kita semua akan sepanjang perjalanan hidup kita masing-masing. Tidak seorangpun manusia tahu tantangan apa yang akan ia hadapi di depannya. Tidak seorangpun manusia terlatih untuk menghadapi tantangan yang spesifik persis sama dengan yang akan ia hadapi. 

Hari yang baru atau mungkin awal yang baru, kita bangun pagi- take off dari landasan, semua terlihat lancar- semua berjalan sebagaimanamestinya. Kita menjalankan rutinitas, melakukan yang biasa kita lakukan, hingga secara tiba-tiba ada hal-hal negatif tak terduga yang datang dan merusak rencana ataupun perjalanan yang sedang kita jalani. Sebagaimana Kapten Sully dalam kisah hidupnya di kokpit tersebut, kita tentunya pasti tertegun sejenak, bahkan mungkin kebingungan. 'Apa yang harus saya lakukan?' kita bertanya dalam hati.

Apa yang telah ditunjukkan Kapten Sully melalui kinerjanya dalam kokpit pada hari itu menunjukkan satu hal penting: Pengalaman hidup akan mendewasakan kita dalam bereaksi/memberi respon akan apapun yang menghampiri hidup kita. Dalam kisah nyata ini, kita dapat melihat ilustrasi kedua orang yang ada di dalam kokpit pada hari itu. Dengan berbekal pengalaman 40 tahun menerbangkan pesawat, terlihat jelas bahwa kesiapan mental sang pilot sangatlah berbeda dengan rekannya, sang kopilot. Kejadian yang sama memang sama sekali belum pernah ia alami tetapi dengan bekal begitu banyak jam terbang serta pembinaan mental, kita bisa bayangkan ketenangan dan judgement yang beliau tunjukkan adalah hal yang eksepsional.

Analogi ini menginspirasi kita untuk tidak menyia-nyiakan pengalaman hidup yang mayoritas sangat berharga. Banyak hal yang kita alami setiap harinya, mulai dari hal kecil hingga ke hal yang sangat signifikan pada hakikatnya memberikan kita kesempatan untuk belajar dan bertumbuh (to learn and to grow) menjadi lebih dewasa. Satu persatu pengalaman akan kita lewati, dan jika kita sepenuh hati melaluinya maka kita sebenarnya sedang merelakan diri kita didewasakan. Pola pikir yang lebih dewasa, tindakan yang tidak semata-mata tanpa dasar, kecerdasan emosi yang stabil merupakan beberapa parameter kedewasaan yang umumnya terlihat.

Seringkali ketika saya terlibat dalam percakapan dengan orang yang lebih tua, biasanya umurnya dua kali lipat dari saya, saya lebih banyak mendengar dan mengulang perkataan orang-orang tersebut. Tidak jarang hal-hal yang mereka bagikan adalah hal yang fundamental tetapi filosofis. Ya wajar saja, ketika seseorang belajar dari pengalaman hidupnya berulang-ulang, ia akan menarik hikmah dan benang merah dari pengalaman tersebut, dan pada akhirnya hal itu yang ia jadikan dasar dalam berpikir ke depannya. Apa yang mereka lontarkan sudah pasti merupakan hasil pembentukan pola pikir mereka selama hidupnya, dan adalah suatu hal yang sangat menenangkan bagi saya untuk terciprat hal-hal  seperti ini.

Jadi, ada orang bijak berkata kerjakanlah segala sesuatu yang kamu pegang dengan segenap hatimu seperti kamu melayani Tuhanmu.  Kita mengerti bersama bahwa melayani sang pencipta adalah suatu pekerjaan yang tidak angin-anginan atau kurang keseriusan. Tidak masalah besar atau kecil sesuatu yang kita kerjakan itu, yang terpenting kita lakukan sepenuh hati. Dengan begitu kita dapat belajar dan bertumbuh lewat pengalaman itu.





Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 comment(s):

Post a Comment