August 29, 2016

Suatu hari di halaman depan rumah, beratapkan rindangnya pohon mangga dan cahaya matahari yang semakin redup, saya duduk memandangi aktivitas yang ibu saya sedang lakukan. Tumpukan tanah, sekam, sejumlah pot, gunting tanaman, dan lain sebagainya berserakan di hadapannya. Ada beberapa tanaman rapih berjejer, baik yang berbunga maupun yang tidak memiliki bunga. Satu persatu dikeluarkan dari potnya dan diganti tanahnya. Saya cuma bisa bantu jadi tangan ke-3 dan 4 atau sekedar jadi perpanjangan tangan untuk mengambil alat yang terlalu jauh. Katanya sih ini namanya penggemburan.

Tanaman, untuk bertumbuh, butuh nutrisi dari tanah melalui akarnya. Ketersediaan nutrisi dalam tanah tentunya pasti akan habis, terutama untuk tanaman yang tumbuh dalam pot. Nutrisi tanah atau biasa disebut zat hara dalam pot perlu dikembalikan, yang salah satu caranya adalah pemberian pupuk. Namun, pupuk tidak selamanya merupakan solusi karena pada batas tertentu tanah tidak gembur lagi bahkan dengan bantuan pupuk. Penggemburan dalam bahasa sehari-hari adalah sebuah usaha untuk meremajakan tanah dalam pot sehingga kembali kaya nutrisi untuk tanaman.

Membangun relasi/hubungan antarmanusia (human relationship) itu seumpama menumbuhkan tanaman dalam pot. Menurut saya, relasi antarmanusia adalah hal yang sangat kompleks dikarenakan keberagaman karakter, dan keunikan masing-masing orang. Sebegitu rumitnya hingga tidak jarang membuat kita pusing, bingung, ragu-ragu, bahkan kata orang sekarang: galau. Secara khusus, efek seperti ini pasti kita temukan dalam relasi antara pria dan wanita, lebih spesifik dalam kategori percintaan.

Ketika kita memutuskan berkomitmen bersama membangun sebuah hubungan (masih menuju pernikahan), ibaratnya kita sedang menanam tanaman dalam sebuah wadah berupa pot berisi media berupa tanah. Sebagai catatan, media tanah apa yang kita gunakan adalah hal fundamental krusial dalam menumbuhkan tanaman ini. Seiring waktu berjalannya hubungan, tanaman ini akan tumbuh berkat nutrisi yang ada dalam tanahnya. Merawat tanaman memang pekerjaan yang gampang gampang susah, atau lebih tepatnya membutuhkan ketekunan. Tekun memberinya air, merawat daunnya yang mulai mati, memberinya pupuk secara berkala, dan pada waktu tertentu: menggemburkannya.

Ketika hubungan itu mulai terasa kering dan akarpun berasa sesak dalam tanah, kita harus tanggap memberinya air. Tapi ingat, tanaman tidak diberi minum ketika panas terik karena justru akan mematikan akarnya. Melainkan ketika pagi hari atau petang di saat cuaca masih/mulai adem ayem. Ketika daun-daun dalam hubungan ini mulai berguguran diserang berbagai problematika, kita harus tanggap merawat dan mencari solusi untuknya. Tapi ingat, tidak jarang daun ini tak terselamatkan dan harus dipotong agar tumbuh daun yang baru.

Pupuk yang kita berikan sesekali dapat menjadi suplemen yang menjaga tanaman ini tumbuh seiring dengan perjalanan komitmen bersama. Pupuk yang berlebihan, justru merusak tanah dan ujung-ujungnya tidak baik juga. Tak pernah mengalami pemupukan juga tidak membawa hal yang baik bagi hubungan itu. Ultimately, ketika pupuk tidak dapat lagi menjadi suplemen untuk pertumbuhan tanaman ini karena tanah yang menjadi media pertumbuhan tanaman ini mulai 'usang', kita harus rela menggemburkannya. Mengeluarkan tanaman ini dari tanahnya, keluar dari potnya. Mengganti tanah atau mencampurkan tanah agar lebih kaya zat hara. Menggunting sebagian akar, jika perlu. Sebelum akhirnya mengembalikan tanaman ini seperti semula. Proses yang memakan waktu dan ketelatenan, tetapi jika tekun dan dilakukan dengan komitmen bersama yang sejalan tentu akan berkhasiat baik untuk tanamannya.

Setiap proses perawatan ini memiliki keunikannya masing-masing. Dari hal yang kecil hingga yang besar teramat signifikan dapat menjadi fokus utamanya. Namun, yang terpenting adalah: dikerjakan kedua tangan si perawat. Orang lain bisa saja datang menjadi tangan ke-3, ke-4, dan lain sebagainya berusaha memberi saran dan bantuan, tetapi yang mengerti dan mengikuti pertumbuhan tanaman ini adalah si kedua tangan perawatnya. Ketika tanaman sakit, apa ia akan ngomongin keluhannya? Tidak, tetapi si pria dan si wanita tahu dan mengerti, karena mereka yang alami dan lalui berdua segala ups and downs dalam pertumbuhan hubungan ini. Bisa saja oleh karena satu dan lain hal, salah satu tangan terluka atau bahkan keduanya terluka tetapi di sisi lain tanaman ini tentunya perlu untuk tetap dirawat. Dalam kurun waktu tertentu tanaman ini mulai layu dan tak terawat dikarenakan kedua tangan tak kunjung sembuh. Orang lain mungkin datang untuk bantu setidaknya mencegah layu tetapi hanya sebentar saja lalu pergi lagi. Oleh karena itu, penting bagi masing-masing dari kedua tangan perawat tanaman itu saling menjaga, tetap fit dan berfungsi/berkoordinasi normal agar keduanya tidak berhenti merawat tanaman itu. Lagipula, keduanya berasal dari satu kepala kan, harusnya sih satu kepala.

Saya belum menikah dan tidak sedang berpacaran, dan apa yang saya analogikan ini tentu hanya sekelumit dari pengalaman dan pengetahuan teman-teman yang sudah lama berpacaran bahkan berkeluarga, yang sudah melaluinya lebih dulu. Meskipun demikian tentu buah pikiran ini juga memiliki referensi dari pengalaman pribadi, belajar dari orang lebih tua, belajar dari teman yang lebih dulu menikah, dan hasil mendengarkan curahan hati beragam orang di dunia maya. Saya ingin berbagi sebuah analogi yang bagi saya pribadi sangat memberikan gambaran akan pentingnya komitmen bersama dalam membangun sebuah tanaman, eh.. hubungan maksud saya. Ga jalan euy kalau hanya satu sisi saja. It takes two to tango, anyway.

0 comment(s):

Post a Comment