August 13, 2016

Beberapa minggu yang lalu, saya diberikan kesempatan mengawasi jalannya ujian akhir semester sebuah matakuliah mahasiswa. Oleh karena dulu saya juga adalah seorang mahasiswa, saya memprediksi bahwa akan ada praktek kecurangan. Bagi saya pribadi, ketidakjujuran adalah sifat yang sangat mengecewakan, dan sulit untuk menghilangkan bekasnya. Jadi, saya siapkan bahasa dan muka menghadapinya.

Singkat cerita, ujian dimulai dan semua berjalan aman, tertib, dan tenang. Tentu saja, hanya bertahan beberapa waktu sebelum akhirnya kertas yang kosong mulai menjerit meminta sesuatu untuk dituliskan padanya. Berkali-kali saya menghela nafas tanda singgungan halus, dan melakukan tugas saya dalam mengawasi. Praktek seperti ini tidak enak dipandang mata tetapi sudah terlalu lazim dilakukan sehingga kesannya seperti sesuatu yang biasa. Namun, hal yang menarik ternyata saya temukan di beberapa puluh menit menjelang akhir ujian.

Saya begitu serius memperhatikan gerak-gerik dan raut wajah peserta hingga saya lupa bahwa 15 menit yang lalu saya baru saja mengizinkan seorang peserta untuk menggunakan kamar kecil. Ketika teringat, awalnya saya menduga mungkin ini praktek yang sama dengan metoda berbeda. Namun, durasi yang begitu lama mematahkan dugaan ini. Saya mencoba meminta beberapa mahasiswa junior yang sedang berkeliaran di luar ruangan untuk mencoba mencari senior mereka di kamar kecil. Lucunya, saya diberi jawaban "biasa itu pak, nanti juga balik." Otomatis saya tertawa.

Ada dua alasan saya tertawa pada saat itu. Pertama, saya berpikir itu adik mahasiswa kok santai amat jawabnya gitu padahal ini kan ujian, resmi pula. Aneh dan kocak. Kedua, saya teringat pengalaman pribadi.

Hingga akhirnya waktu ujian berakhir, bangku yang ditinggalkan tadi masih kosong dan kertas ujian beserta kertas soal masih berbaring di sana. Sembari mengumpulkan lembar jawaban, saya tunggu orang itu karena saya penasaran dengan apa yang dilakukannya daritadi serta alasannya. Namun, mukanya tak muncul lagi. Celakanya, saya tak ingat mukanya. Short term memory problem. haha. Ketika saya cek kertas jawabannya, memang yang kelihatan di sana cukup mengerikan. Saya turut berduka pada saat itu. Mungkin dia menyerah, dan egonya berkata untuk pilih selesai lebih awal.

Pengalaman pribadi saya, yang hampir serupa, diingatkan oleh kejadian adik ini. Pada waktu itu, saya mengikuti ujian akhir di bangku kuliah sarjana. Salah satu mata kuliah yang harusnya bersifat dasar tetapi akhirnya cukup ngejeliwet. Singkat cerita, ketika ujian berlangsung saya meninggalkan ruang ujian lebih dari 10 menit. Namun syukurlah, saya kembali dengan niat mengerjakan sebisa, sehabisnya, dan kalaupun gagal maka berikutnya pasti berusaha lebih baik lagi. 

Seorang praktisi Brazillian Jiu-Jitsu pernah berkata, 

"Tap out today, to train and fight harder next time. May even clinch a win. There is no reason for you to let your opponent break your arm/leg(s) just because you don't want to look like a quitter."

Dalam praktek BJJ yang pernah saya cari tahu, kuncian adalah finishing move yang memaksa lawan untuk menyerah (tap out) dan pertandingan berakhir. Kuncian dapat dilakukan pada lengan, kaki, engsel/sendi yang terletak hampir di semua bagian tubuh. Kuncian yang terlalu dalam dan tidak dihentikan (tap out) dapat memaksa patahnya tulang atau sendi. Pada duel bela diri BJJ ini, memang peserta yang melakukan tap out dinyatakan kalah. Keputusan yang bijaksana, daripada membiarkan bagian tubuh dipatahkan dan akhirnya tidak bisa latihan karena harus memulihkan bagian yang patah.

Dengan meninggalkan kelas dan mengakhiri ujian begitu saja tanpa usaha lebih, menurut saya, sama saja dengan menolak untuk tap out. Egonya berbicara. Kita tidak menyelesaikan ujian atau masalah dengan meninggalkannya. Kita bisa menyelesaikan dengan admitting, accepting, giving effort, and learn dan semuanya dilakukan di depan masalah itu. Ujian itu mungkin mematahkan kepercayaan diri mahasiswa tersebut, dan yang patah biasanya butuh waktu pulih. Ketika harus menghadapi hal yang sama kedua kali, mungkin belum cukup kekuatan yang terbentuk.

Saya harus berkata bahwa banyak pelajaran selama setahun belakangan tentang hal ini. Setiap orang pasti punya lawannya masing-masing dalam hidupnya, biasanya hal internal. Kita selalu diajarkan secara umum untuk mendorong diri melampaui batas terus dan terus menerus, meski ada halangan gas terus! Namun, saya berpikir kita harus melihatnya case by case, dan seringkali kerendahan hatilah (bukan rendah diri) yang sedang dibentuk dengan berani mengakui (admit), menerima (accept), serta belajar (learn) dari proses menyelesaikan masalahmu.

Melebar ke sana kemari cerita saya, tetapi inilah intisarinya: mengenai sharing tentang kebijaksanaan mengambil sikap. Tidak selamanya ngotot menang adalah cara menyelesaikan pertandingan yang bijak. Harus ada kerendahan hati pada situasi yang tepat untuk mengakui ketidakmampuan dan belajar dari situasi tersebut. Secara pribadi, saya tahu ini adalah kelemahan saya. Mungkin kamu juga, atau mungkin tidak. Semoga kita semua bisa belajar dari pengalaman masing-masing untuk lebih bijaksana dalam menyikapi tantangan ataupun permasalahan yang terlewati.

Penutup dari kata orang bijak:
"Blessed are the MEEK: for they shall inherit the earth."






sumber gambar

0 comment(s):

Post a Comment