May 4, 2016

"Membaca adalah salah satu aktifitas favorit yang harus dimiliki oleh seorang peneliti." Demikian perkataan seorang direktur teknik perusahaan swasta yang pernah saya temui. Pernyataan beliau benar sekali dan saya setuju, karena membaca itu membuka banyak pintu ide, dan terutama merangsang pertumbuhan pengetahuan yang sudah ada dalam kepala. Membaca tidak terbatas hanya pada textbook, tetapi lebih luas lagi banyak yang dapat kita baca, seperti makalah, artikel, koran, majalah, dan lain sebagainya. Semua sumber ini memperluas wawasan, yang dalam profesi peneliti bahkan mungkin mayoritas profesi sangat berguna. Kalau begitu, harusnya membaca itu dipopulerkan sejak usia muda ya.

Meskipun membaca adalah kegiatan yang sangat bermanfaat, keinginan membaca sering sekali rendah. Banyak sekali alasan yang menyebabkan kita malas membaca. Mudah bosan, buat ngantuk, mahal beli buku, merupakan beberapa alasan yang muncul di kepala saya biasanya. Terkhusus di alasan 'mahal', dulu saat saya menempuh studi S2 sebenarnya saya diberikan bantuan budget untuk beli buku. Saya tak perlu khawatir jika ingin beli buku. Namun, kadang tidak semua buku itu berhasil saya selesaikan. Hanya menjadi penggembira di rak buku. 

Beberapa waktu lalu di Semarang saat saya sedang berjalan kembali ke penginapan, saya menyempatkan singgah di sebuah toko buku yang saya lewati. Kebetulan sedang ada bazaar buku murah, pasti ada saja yang menarik. Setelah sekitar 45 menit berkeliling dan screening buku demi buku, saya akhirnya mengantongi beberapa buku murah dan beranjak menuju kasir. Sebelum sampai ke kasir ternyata ada judul buku menarik yang menghentikan langkah. Ini dia bukunya: -->

Hal pertama yang muncul pertama kali saat saya melihat buku ini adalah malah berpikir bahwa buku tersebut bisa dijadikan persiapan pria agar tidak ketahuan bohong. Hahaha. Oke, sekedar intermezzo.

Di waktu bersamaan dengan membuka buku tersebut, saya mendengar suara anak kecil tidak jauh dari lokasi saya berdiri sedang menghitung, sembari terdengar suara ''tring tring tring..." dan suara seorang pak satpam membantu. Oleh karena muncul rasa penasaran, saya mendekat. Ternyata seorang anak kecil bersematkan tas kantung kecil, baju kusam kotor dan sendal jepit (mungkin pengamen/ anak jalanan) saya tidak tahu pasti, sedang jongkok menghitung koin-koin dari tasnya sambil memegang dua buah majalah (salah satunya majalah otomotif). Sepertinya adik ini ingin membayar belanjanya dengan penghasilannya hari itu. Masih penasaran, saya mengamati dia hingga ke kasir, dan adik ini mengantri di meja pembayaran. 

Di saat seperti ini, apa yang mungkin terpikir anda lakukan?
Di pengalaman ini, saya sadar kepekaan saya mungkin masih terlalu rendah. Jadi, begini..

Niat saya adalah mengambil beberapa buku lagi dan bergegas ke kasir untuk memotong antrian adik ini agar saya bisa bayar buku yang saya tambahkan beserta majalah yang dia pegang. Niat ini tak tersampaikan karena adik ini sudah selesai membayar, malah sudah keluar toko sampai tak terlihat lagi. Mungkin lain kali niat saya bisa lebih sederhana, ...hahaha..., sesederhana ngajak ngobrol dan traktir majalahnya (kalau dia tak keberatan).

Kini, pengalaman ini sering menjadi teguran ketika malas buka buku, atau setidaknya baca koran. Dalam keterbatasan, seorang adik tadi masih punya niat menemukan bahan bacaannya. Baiknya kita berkaca pada diri kita, alasan apa yang membuat kita malas (membaca). Alasan sebagus apa? Keterbatasan apa yang menghalangi?
Semoga adik ini diberkati langkahnya, mendapatkan kesempatan menerima pendidikan formal dan pekerjaan yang baik. Terima kasih sudah menjadi inspirasi dan teguran.

Meskipun saat ini masih sebatas beginner reader, mudah-mudahan dengan dibiasakan, bisa jadi sebuah gaya hidup. Mari membiasakan membaca.

0 comment(s):

Post a Comment