April 29, 2016

Suatu kali saat sedang memilih-milih siaran di televisi, saya berhenti sebentar di satu siaran film yang dibintangi Sylvester Stallone. Judul film tersebut adalah Lock Up, dirilis pada tahun 1998. Adegan yang saya tonton ketika itu bertepatan sekali sebagai adegan menarik bagi saya.

*** script:
Feeding guy: F*cking birds.
Feeding guy: F*cking birds don't eat in the rain.
Stallone: Yeah, well, they'll come back.
Feeding guy: You save your bread for me tomorrow? Stallone: Yeah, sure. Put that on your list, okay?
Feeding guy: Thanks.

Other guy: Why you talking crazy, man? It's a waste of time.
Stallone: To you, it's a waste. To him, it's all he's got. That's more than you got. In here, you gotta respect that. ***

Adegan ini mengingatkan saya pada seorang bapak (pak S) yang saya kenal baik yang telah berpulang ke Yang Maha Kuasa. Kejadiannya kelihatan lumayan serupa. Semasa hidupnya, bapak ini pernah bergabung dalam perkumpulan bapak-bapak. Salah seorang anggota dalam perkumpulan ini (kita sebut pak D) memiliki sifat yang aneh dan cenderung mirip orang yang sedikit terganggu pikirannya. Kekurangannya ini mengakibatkan mayoritas anggota yang lain kurang tertarik mengajaknya ngobrol, bahkan obrolan singkat sekalipun. 

Pak S yang saya tuliskan di awal memiliki pandangan yang berbeda. Setiap kali bertemu, bapak ini rajin menyapa Pak D bahkan tidak jarang diterima bertamu ke rumahnya dan ngobrol panjang lebar. Kadang orang bingung mengapa pak S mau meladeni pak D padahal sudah tau ada ketergangguannya. Pak S kelihatan menikmati setiap percakapannya dengan pak D, tidak sekalipun terlihat seperti basa basi. Mungkin akibat rasa senang ditanggapi dan didengarkan inilah yang membuat pak D ini senang dekat dengan pak S setiap kali dalam ada temu perkumpulan tadi. 

Tiba pada hari berduka berpulangnya pak S, pak D tidak tampak hadir. 

Beberapa minggu setelah hari berduka itu, pak D datang ke rumah pak S dengan ekspresi kesal sembari bertanya lantang kepada ibu saya mengapa tidak ada yang memberitahunya tentang kepulangan temannya itu. Ternyata, kabar meninggalnya pak S tidak pernah sampai ke telinga pak D, dan itu membuatnya sangat kesal. Tampaknya bahkan tidak ada satupun orang di perkumpulan tadi yang terpikir untuk memberitahunya. 

Tidak lama menunggu. Beberapa bulan kemudian Pak D menyusul temannya itu dipanggil pulang oleh Yang Maha Kuasa. 

Saya tidak pernah sempat bertanya alasan perlakuan pak S terhadap pak D, tetapi dari yang saya saksikan dan potongan film di awal tadi saya bisa mengambil pelajaran berharga. Bagi kita umumnya, mungkin melakukan hal seperti itu adalah membuang waktu, tak ada gunanya bagi kita. Namun, bagi orang yang dengan kondisi seperti ini, dijauhi dan diabaikan, waktu dan perhatian dari satu orang saja merupakan sesuatu yang sangat berarti. 

Kita mungkin tidak mampu memberi perhatian kepada semua orang terkucil dimana-mana, tetapi setidaknya kita bisa melakukannya kepada yang di dekat kita dalam keluarga, perkumpulan, pekerjaan, dll. Saya belajar dari pak S tentang kepedulian akan orang lain, tentang bukan menghitung untungnya apa tetapi apa yang membuat orang lain merasa beruntung, terlebih lagi menyembuhkan hatinya. Lagipula, orang beruntung kan pasti merasa bahagia. 

Satu pelajaran lagi yang lumayan relevan adalah menjaga mulut berkata-kata. Apa yang kurang menarik atau berguna di mata kita, mungkin bagi orang lain adalah sesuatu yang sangat bernilai penting. Kita kadang suka menanggapi hobi, pendapat, prinsip hidup, karir yang dipilih, bahkan sesederhana selera fashion orang lain dengan kata-kata yang merendahkan pilihan mereka tersebut. Padahal mungkin pilihan itu berarti sekali bagi orang tersebut. Seorang bijak pernah menulis, "Yang keluar dari mulut orang lancang seperti tikaman pedang, tetapi mulut orang bijak itu menyembuhkan." Wah, saya pribadi harus lebih belajar lagi mengendalikan mulut ngawur ini.

0 comment(s):

Post a Comment