April 5, 2016

Pribadi manusia itu unik dan kompleks. Saya dan kamu berbeda, tiap orang diciptakan sebagai dirinya sendiri. Kepribadianku punya faktor x yang membuatku berbeda dengan kamu dan orang lain di muka bumi ini. Oleh karenanya, terkadang saya berpikir ilmu psikologi itu adalah pengetahuan yang sangat menarik karena intinya mempelajari perilaku dan kepribadian manusia yang sangat luas dan beragam ini. 

Meskipun berbeda satu sama lain, jika diklasifikasikan, satu kesamaan yang kita miliki adalah bahwa setiap orang punya sisi baik dan sisi buruk kepribadian. Tidak ada yang hanya punya sisi baik, sebuah fakta yang menjadikan manusia bukan makhluk yang sempurna. Tidak ada pula yang hanya punya sisi buruk, karena kita diciptakan dengan hati nurani. Sisi baik umumnya membuat kita disukai banyak orang, dan membuat diri kita senang. Tentu sebaliknya, sisi buruk membuat kita umumnya dijauhi orang lain dan normalnya membuat kita kecewa pada diri kita sendiri. 

Kecenderungan kita sebagai manusia, secara spesifik makhluk sosial, adalah selalu berusaha mengurangi dan menekan bagian yang buruk tadi, dan menjadi orang yang lebih baik. Namun, terkadang yang menjadi masalah adalah ketika bagian kepribadian yang buruk ini sudah terlalu lama melekat dan susah untuk diubah. Kepribadian buruk biasanya muncul dari kebiasaan yang buruk yang dimanjakan dan diberi waktu. Ketika kita menyadari bahwa ini sudah terlalu jauh, barulah kita mulai berpikir mengubahnya. Sebagian orang bahkan dapat memendam kekecewaan pada dirinya dalam waktu yang lama, bahkan tidak jarang mengalami depresi. 

Salah satu serial yang menarik bagi saya adalah House M.D., sebuah serial produk negri Paman Sam yang berlatarkan rumah sakit dan memiliki ide cerita berupa kehidupan seorang dokter jenius (Dr. Gregory House) pecandu painkiller, serta berkepribadian super mengesalkan. Serial ini terdiri dari 8 musim, yang mana salah satu episode mengesankan ada di musim ke-6. Pada episode pertama di musim ini diceritakan tentang Gregory House yang baru sadar akan kebiasaan candunya yang sudah di luar kendali dan sangat merusak akhirnya didukung sahabatnya memutuskan untuk mengikuti program rehabilitasi dan terapi. Keputusan yang sangat krusial bagi dirinya, dan tentunya akan sangat menyakitkan dalam prosesnya. 

Dalam episode tersebut, Greg sebagaimana dijelaskan sebelumnya adalah orang yang super mengesalkan. Sepanjang terapi Greg membangkang dari program yang disediakan, menolak obat yang diberikan, serta memaksa untuk dinyatakan sembuh dari terapi tersebut. Kericuhan dan masalah yang dia buat dalam asrama bukan membuatnya berubah dan menjadi setidaknya orang yang lebih disukai, tetapi dokter(/psikolog)nya selalu memperhatikan hal ini. Menurut saya, dialog dokter inilah yang menjadi ringkasan kunci dari perubahan diri.

 "You need to stop fighting the system. You need to let me do my job." 

Pelajaran tentang perubahan diri yang bisa saya ambil dari ilustrasi episode ini adalah perihal 'TRUST' dan 'PERSEVERANCE'. Dalam hal ini, 'Trust the system, the process' dan 'keep doing the directions with Perseverance'. Keraguan pasti sering muncul ketika kita berusaha untuk berubah, dan kita menghiraukannya. Padahal bagaimana mungkin kita akan mendapat buah manis dari proses ini jika kita bahkan ragu-ragu akan adanya hasilnya. Banyak hambatan dan kemunduran ketika kita berusaha menekan kebiasaan buruk dan menggantinya dengan kebiasaan baik, oleh karena itu kita butuh tekun menjalani prosesnya. Merencanakan, melakukan hal yang membangun, dan mengevaluasi diri. 

Kita semua belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik, dan itu bagus. Namun jangan mudah kecewa apalagi bersedih ketika usaha kita untuk berubah sesekali mentok. Bagi yang percaya Tuhan, mungkin kita harus lebih berserah dan mempercayakanNya diri dan hidup kita. Mungkin selama ini kita terlalu membangkang dari treatment-nya sehingga perubahan jauh dari tercapai. Semoga beruntung, dan mari tetap belajar dalam perawatan ini.


0 comment(s):

Post a Comment