December 16, 2013

Sekitar dua minggu lebih beberapa hari yang lalu, saya ditemani pembimbing dan beberapa teman lab berangkat ke provinsi tetangga untuk mengambil data lapangan. Perjalanan hampir dua setengah jam dari kota Bangkok kami tempuh dengan mobil pick-up yang mengangkut mesin dan peralatan tempur lainnya. Hari itu cuaca cerah dan tidak terlalu panas berhubung kalender menunjukkan bahwa sebentar lagi memasuki bulan desember. Ada dua kegiatan yang menjadi target aktifitas utama kami saat itu: instalasi peralatan untuk pengamatan jangka panjang, dan pengambilan data berkala.

Sesampainya di lokasi, yang segera kami laksanakan adalah aktifitas terpenting yakni instalasi peralatan. Peralatan pengamatan ini akan di'tanam' di dalam jalan dan dibiarkan dalam perioda waktu yang cukup lama. Dengan mempergunakan mesin dan peralatan yang kami miliki, kami sukses membuat lubang pengamatan dan segera melakukan instalasi di dalamnya. Tidak sebentar waktu yang kami habiskan untuk persiapan, instalasi, perbaikan hingga pemantapan. Kami memulai tengah hari dan selesai sekitar pukul 4 sore, tentunya diselingi makan siang.

Alat yang jauh-jauh kami datangkan dari United Kingdom itu akan kami tinggalkan sendirian mengarungi terik siang dan kelamnya malam. Hmm, mungkin tidak sepenuhnya sendiri karena ada pak satpam yang berjaga 50 meter di dekatnya. Oleh karena durasinya yang sangat lama, kami harus memastikan semuanya siap menghadapi kejadian tak terduga baik itu efek lingkungan, cuaca maupun binatang liar. Sedemikian rupa alat ini kami beri perlindungan dan jaminan keselamatan agar nantinya memberikan hasil yang baik untuk dibawa pulang.

masyarakat sedang berdoa
di kuil berdoa di Thailand
Sudah cukup basa-basi dan pengantarnya, satu hal yang saya sangat ingat dan berkesan dari hari itu adalah kejadian sewaktu kami akan pergi dan kembali ke Bangkok. Pembimbing saya bilang ke saya, "Nanti kita ke kuil kecil sana sebentar ya (sambil menunjuk ke arah lain). Kita berdoa supaya alat ini dilindungi." Untuk informasi, di Thailand banyak terdapat kuil kecil berbentuk rumah hampir di setiap bangunan yang dijadikan spot untuk berdoa bagi umat Buddha (seperti gambar di kanan). Kuil yang kami jumpai kemarin itu benar-benar kecil sekali, tidak seperti gambar di samping.

Saya awalnya sedikit bingung dengan maksud si bapak karena bahasa Inggrisnya kurang jelas masuk ke telinga saya. haha. Ternyata setelah saya decipher di dalam kepala, saya baru sadar. haha. Maklum agak telmi (telat mikir).

Sangat berkesan bagi saya karena saya malah diingatkan perihal berdoa oleh pembimbing saya. Meski saya saat itu tidak berdoa kepada patung di kuilnya, saya diingatkan untuk ikut berdoa dalam hati. Hal-hal seperti ini bagi saya pribadi sering terlupakan. Makan ingat berdoa, waktu ibadah ingat berdoa, tetapi justru di kegiatan-kegiatan di luar kebiasaan malah lupa berdoa. Mungkin ini satu tanda juga bahwa doa belum jadi kebiasaan bagi saya, atau mungkin juga bagi kamu. hehe.

Berdoa itu sendiri adalah komunikasi kita dengan Tuhan secara spiritual, dengan kata lain membangun hubungan dengan Tuhan. Terlepas dari apakah yang kita minta itu dipenuhi atau tidak, berdoa tetap memberikan kita satu penyegaran dalam hubungan spiritual kita dengan Tuhan. Seperti halnya kejadian di atas, dengan segala perlindungan dan jaminan keselamatan yang kami buat untuk alat tersebut, jika Tuhan berkehendak lain, apa boleh buat. Tak ada ruginya malah membawa nikmat. Mudah-mudahan kita semakin membiasakan diri berdoa, spontan maupun terencana. Amin.

1 comment(s):

  1. Hey rey I cant understand write in english please thanks haha

    ReplyDelete