December 20, 2012

Sudah beberapa hari ini saya mencoba mencari referensi pembahasan mengenai topik 'Mengenal Suara Allah'. Tidak seperti yang saya kira, banyak penulis merujuk pada perikop Yohanes 10 tentang Yesus adalah Gembala yang baik. Awalnya saya bingung mengapa bagian ini yang mayoritas dikutip dan dijadikan dasar bahasannya, karena secara tersurat cuma ingin menyatakan karakter Yesus. Namun, ternyata jika kita pelajari dengan seksama, bukan hanya tentang karakter Yesus sebagai gembala yang baik yang ingin disampaikan pada perikop ini.


domba dan gembala
Dalam perikop ini, kita manusia digambarkan sebagai domba-domba yang sedang digembalakan dimana Yesus adalah gembala yang baiknya. Saya mengutip 3 ayat dari bagian ini yang akan mengajarkan kita satu hal, mengenal suara Allah. Di ketiga ayat ini, kita bisa membaca bahwa domba-domba mendengar suara gembala dan mengikutnya, tetapi ketika mereka mendengar suara orang asing/penjahat, mereka tidak hanya mengabaikan tetapi juga menghindarinya. Ketika membaca ini, saya tertarik pada kata 'know'.


3-The doorkeeper opens to him, and the sheep hear his voice, and he calls his own sheep by name and leads them out. 4-And when he puts forth his own sheep, he goes before them, and the sheep follow him. For they know his voice. 5-And they will not follow a stranger, but will flee from him, for they do not know the voice of strangers.
John 10:3-5 (MKJV)

Dari beberapa macam versi terjemahan bahasa Inggris, ada tiga macam kata yang saya temukan: know, listen, dan recognize. Dari ketiganya, 'know' adalah yang mayoritas digunakan. Secara sederhana, jika kita terjemahkan ke bahasa Indonesia, 'know' berarti ya tahu atau kenal. Saya tahu/kenal itu suara si A, itu suara si B. Namun, apa yang saya temukan di kamus ternyata lebih daripada itu.
know - 2 [ with obj. ] have developed a relationship with (someone) through meeting and spending time with them; be familiar or friendly with. (New Oxford American Dictionary)

Terus terang saya jadi kagum dengan penempatan kata 'know' di perikop tersebut. Yang dimaksud dengan kenal dengan suara sang gembala bukan hanya sekedar tahu tetapi dari sebuah proses persekutuan yang memberikan kedekatan. Domba-domba menghabiskan banyak waktu dengan gembalanya di padang maupun di rumah dan itu memberikan kedekatan antara mereka. Demikianlah yang ingin disampaikan dari perumpamaan tersebut bahwa kita domba-domba ini ingin kenal yang mana suara Allah yang Maha baik yang sedang menuntun kita. Untuk kenal (know), perlu kedekatan dengan Allah yang datangnya dari spending time with HIM (punya waktu yang intim bersamaNya).

Dalam keseharian, ada kalanya kita ragu dan bimbang tentang suara Tuhan di tengah-tengah begitu banyak godaan dari dunia seperti halnya penjahat yang mau mencuri domba-domba. Satu-satunya jalan  agar kita mampu mengabaikan bahkan menghindari suara-suara jahat itu, kita perlu punya kedekatan dengan Tuhan. I know His voice that I will not fall for others. Malam ini seseorang juga menguatkan saya juga tentang hal yang sama yang diajarkan oleh perikop ini. Puji Tuhan.

The logic is simple.
Spending time with God helps me KNOWING Him.
Now that I KNOW His voice, I will not fall for others. He leads me into righteousness.

Untuk itu, mari kita sama-sama terus bangun persekutuan kita yang intim bersama Tuhan agar kita dimampukan melawan segala yang jahat dan terlepas dari cobaan itu. Amin.

Tuhan memberkati. :)



1 comment(s):

  1. Dalam hal ini saya sependapat sekali dengan Anda.
    Memang untuk bisa mendengar suara Tuhan dan mau mengerjakan perintah-perintah-Nya, kita juga harus tahu dan mengenal Dia terlebih dahulu.
    Yang saya pelajari selama ini, jika kita sudah 'dipilih' oleh-Nya, tidak ada sesuatu pun, ... sekalipun tindakan tindakan (jahat) kita, yang bisa menghalangi Dia untuk terus berbicara di dalam hati kita.
    Terima kasih atas kunjungan Anda di blog saya.
    Tuhan memberkati selalu,
    John Adisubrata

    ReplyDelete