December 27, 2012

Nietzsche Post
Suatu kali saya membaca sebuah paragraf dalam buku karangan Victor Frankl yang mengutip salah satu filsuf terkenal yang bernama Friedrich Nietzsche. Beliau menyampaikan seperti ini.
He who has a why to live can bear with almost any how. -FWN-
Terlepas dari latarbelakang seorang Nietzsche yang saya ketahui, saya berpikir bahwa apa yang disampaikan beliau lumayan masuk akal. Untuk menghadapi tantangan hidup yang diawali dengan 'bagaimana', terlebih dahulu kita harus mengerti 'mengapa'. Meski pada kenyataannya memang tidak semua hal di dunia dengan pertanyaan mengapa dapat kita jawab, kata 'mengapa' tetap punya peranan besar dalam pengembangan diri kita. Victor sendiri mengambil kutipan ini untuk melengkapi bahasan bukunya yang bertajuk 'Man's Searching for Meaning'.

Manusia memang suka mencari jawaban dari 'why' yang berupa alasan atau penyebab. Alasan dan penyebab kemudian memberikan arti. Menariknya, saya terpikir bahwa dalam kehidupan sehari-hari secara umum ada 2 tipe orang yang lekat dengan kata 'why' bahkan merupakan 'bahan dasar' pemikirannya. Orang pertama adalah, para peneliti atau mungkin dalam beberapa hal dapat disebut para pencari kebenaran. Sebagai seorang peneliti, 'why' umumnya menjadi penggerak hatinya. Keinginan untuk mencari tahu penyebab suatu hal, hal baru, kebenaran dan lainnya benar dipicu oleh muncul nya sebuah kata kecil di dalam kepala, "mengapa?". Seorang peneliti dengan dahaga dan nafsunya gemar menggali pengetahuan dan menambah wawasannya demi memperoleh kebenaran itu dan mengungkapkannya ke publik. Secara umum, apa yang membuatnya terus haus akan menjawab pertanyaan 'why' itu adalah kerinduannya memberi yang lebih baik bagi lingkungan sosial dan publik. Hal ini selalu membuat saya kagum terhadap profesi ini meski sayangnya tidak banyak yang sadar terutama di tanah air ini, betapa krusialnya peran mereka.

Tipe orang kedua adalah si pengeluh. Why oh... why..?! Dengan kepercayaan dirinya, menyatakan hidupnya yang berada di bawah standar kebahagian kebanyakan orang. Dunia maya mungkin menyebutnya, first world problem. Kata 'why' selalu melekat dalam kalimat yang diungkapkannya. Dalam hal buruk terkecil sekalipun, hidupnya terasa seperti sudah hancur dan dengan kepala menengadah ke atas, bertanya 'Kenapa begini?! Kenapa Begitu?!'. Sedikit berlebihan memang ilustrasinya tetapi kamu pasti mengerti maksud saya. Meski sama-sama mencari alasan/penyebab dari suatu hal, orang ini berbeda dari orang pertama. Orang pertama punya rasa ingin tahu untuk suatu hal demi hal yang baik bagi dirinya, orang lain dan lingkungan. Sedangkan, orang kedua punya ego yang kental dan menganggap semuanya harusnya berjalan sesuai apa yang di kepalanya. Jika Victor menyambungkannya kepada mencari arti dalam hidup. Sebagai orang kedua, saya pikir bukan sedang mencari arti hidup tetapi mencoba menjelaskan bahkan mengajari apa arti hidup pada Sang Pencipta. Sedangkan orang pertama menurut saya, belajar arti dari hidup yang disediakan Sang Pencipta padanya. Keduanya dipisahkan garis tipis tetapi jangan sampai jatuh di bagian pengeluh. hehe.

Nietzsche memang menyatakan bahwa 'why' menjadi dasar menghadapi 'how' tetapi saya rasa bukan  menjadi tipe orang kedua yang beliau maksudkan. Saya pribadi mengambil arti dari pernyataan beliau sebagai penyemangat bahwa rasa ingin tahu itu harus dipupuk, tidak hanya di ranah pendidikan tetapi juga di ranah sosial, budaya, spiritual dan lainnya. Dengan rasa ingin tahu ini kita dapat mengembangkan wawasan dan membantu kita berpikir lebih terbuka bahkan menjadi lebih bijaksana. Meski kita semua tidak mungkin mau menjadi peneliti, setidaknya jangan menjadi pengeluh yah. :)


0 comment(s):

Post a Comment