November 1, 2012

Setiap orang pasti ingin memiliki kualitas hidup yang baik. Diakui atau tidak, setiap orang mencari petunjuk dan panduan untuk memilikinya. Mari kita lihat saja berbagai buku laris manis yang bertemakan motivasi, pembimbing kecerdasan emosional (EQ), 'How to ...', hingga buku-buku rohani dan lainnya yang beredar di pasaran. Kualitas hidup yang baik memang ditentukan oleh salah satunya cara kita berpikir dan meresponi segala sesuatunya. Bagi saya pribadi, kualitas hidup seseorang secara signifikan ditentukan oleh kualitas kehidupan rohaninya. Semakin intim seseorang dengan sang pencipta, semakin baik kualitas hidupnya.

Saya mengambil sesuatu yang dekat sebagai ilustrasinya. Sebagai masyarakat jalan raya, kita tentunya sangat dekat dengan yang dinamakan perkerasan jalan (pavement). Sebagian orang mungkin tidak mengenal istilahnya dan lebih mengenal dengan istilah aspal jalan. Meski sebenarnya tidak selalu aspal dan bahkan tidak semata-mata bagian aspalnya saja. Sederhananya, perkerasan jalan adalah bagian jalan yang selama ini sebagai tempat ban kendaraan kita melintas. Seperti halnya buatan manusia lainnya, perkerasan jalan hanyalah infrastruktur yang punya usia. Ada saatnya perkerasan ini rusak secara fisik  (bolong-bolong) maupun struktural (tidak mampu menahan beban kendaraan) seiring dengan berjalannya waktu. Nothing lasts forever.

Tipikal Penurunan Kualitas Perkerasan Jalan

Kurva di atas menunjukkan penurunan kualitas perkerasan jalan dan konsep pemeliharaannya. Kurva ini dapat kita gambarkan sebagai kualitas kehidupan rohani kita, hanya saja abaikan axis waktu yang satuannya dalam tahun. Dimulai dari awal pengenalan akan Tuhan yang orang tua kita berikan (No. 1), kualitas yang masih sangat baru dan baik. Seiring dengan berjalannya waktu, jika kita tidak memelihara kehidupan rohani kita, kualitas kehidupan rohani kita akan bergerak mengikuti kurva dari angka 1 hingga angka 4. Secara tipikal, kualitas kehidupan rohani kita menjadi sangat buruk tanpa adanya pemeliharaan yang rutin.

Kondisi kedua adalah kita yang selalu menunda-nunda untuk memelihara persekutuan kita dengan Tuhan hingga saatnya kita merasa sudah berada di angka 3, kualitas kehidupan rohani yang buruk. Di angka 3, aspal jalan mungkin sudah bolong-bolong dan tidak baik lagi untuk dipakai. Di saat sudah buruk, barulah kita membina lagi persekutuan itu. Jika kita berbicara secara teknis, pemeliharaan pada angka 3 ini sangat membutuhkan cost yang besar. Dalam hal ini, tanpa kita sadari kita telah menyia-nyiakan banyak hal dalam hidup kita karena buruknya persekutuan rohani kita.

Untuk mempertahankan kualitas perkerasan jalan, pemeliharaan rutin adalah pemeliharaan yang harus dilakukan oleh pengelola. Pada ilustrasi di atas, pemeliharaan rutin direpresentasikan oleh garis putus-putus berwarna biru, sedangkan kurva berwarna biru merepresentasikan kualitas perkerasan tersebut setelah setiap kali diadakan pemeliharaan rutin. Konsep ini tepat sekali berlaku dalam kehidupan rohani kita. Untuk menjaga kualitas kehidupan rohani yang baik, butuh pemeliharaan yang rutin yakni melalui doa dan pengenalan firman Tuhan.

Kita manusia harus kita akui secara pribadi adalah makhluk yang lemah terhadap godaan dosa dan segala antek-anteknya yang menghancurkan. Persekutuan yang baik dan intim dengan Tuhan lah yang memampukan kita mengatasi semua itu. Inilah dasar bahwa kita punya ketergantungan kepada Tuhan. Banyak cobaan yang ada di dunia ini tetapi tidak satupun melebihi kemampuan yang Tuhan berikan kepada kita. Yang kita perlukan hanyalah setia dan taat kepadanya. Pemeliharan rutin berupa pembacaan firman, doa, persekutuan dengan teman seiman dan lainnya akan membantu kita menjaga kualitas kehidupan rohani kita tetap baik.

Saya sangat bersyukur saya belajar tentang kurva ini karena dengan ini saya malah diingatkan betapa krusialnya persekutuan rutin saya dengan Tuhan dan betapa besarnya efeknya terhadap kualitas hidup saya ke depannya. Kiranya kita semua tetap menjaga persekutuan pribadi kita dengan Tuhan.



sumber gambar: www.totalasphalt.com

0 comment(s):

Post a Comment