October 12, 2012

Sekitar 4 bulan yang lalu, saya memulai semester ini dengan suasana hati bergembira, semangat juang tinggi dan gaya hidup yang baru. Minggu lalu, dengan segala kekurangan dan kelebihannya semester ini resmi usai ditandai sebuah ujian terakhir di hari terakhir penyerahan nilai akhir. Endception. Akhir selalu berarti awal dari sesuatu yang lain, yang dalam hal ini: masa rehat. Tidak sepenuhnya masa rehat, saya ingin mencoba melakukan hal baru di waktu kosong ini. Namun, hey masih ingat dengan penyakit mahasiswa? Procrastination.

Masih ingat dengan bahan pelajaran mekanika dalam mata pelajaran fisika dulu? Satu istilah yang melekat seperti perangko jika berpapasan dengan mekanika adalah Gaya (Force). Lebih lanjut, ada cerita tentang gaya gesek (friction). Suatu benda di atas bidang datar akan bergerak ketika gaya yang dikenakan (F) melampaui gaya gesek benda yang terletak ini. Gaya gesek terbagi atas dua jenis, statis dan kinetis. Gaya gesek statis (fs) adalah gaya gesek yang bereaksi terhadap gaya luar pada saat benda diam, sedangkan kinetis (fk) adalah gaya gesek yang bereaksi dalam kondisi benda bergerak di atas permukaan tersebut. Jika masih ingat, gaya gesek statis umumnya lebih besar daripada gaya gesek kinetis (fs > fk). Benda akan mulai bergerak tepat ketika F melampaui fs (fs) dan kemudian F harus lebih besar dari fk (Ffs fk ) agar benda tetap bergerak.

Ada analogi yang selalu saya ingat terkait kemalasan akut yang melanda sebagian besar mahasiswa di masanya. Seperti sedianya fs > fk, memang selalu lebih susah untuk memulai suatu pekerjaan daripada melanjutkan pekerjaan itu setelah dimulai. Membuat sesuatu yang diam menjadi bergerak memang lebih susah daripada membuat sesuatu itu tetap bergerak. Teori mekanika di atas memberi kita gambaran bahwa sebenarnya kita harus melampaui fs kita pribadi dan selanjutnya semuanya akan terasa lebih ringan. Lebih lanjut, sesuatu yang sudah dimulai tidak akan selesai jika tidak ada komitmen yang kuat. Terkadang komitmen akan mengendur di pertengahan hingga akhir, yang mana pada kondisi itu akan muncul penurunan kinerja dan performa. Menurut saya pribadi, kondisi ini normal dan berhenti sejenak untuk 'mengambil nafas' itu penting. Namun, tetap diingat bahwa sejatinya F > fk pada kondisi ini. Yang artinya, istirahat memang perlu tetapi semangat itu jangan sampai turun dari seharusnya. Istilah orang tua 'panas-panas kotoran ayam' itu nyata adanya dan pada dasarnya semangat akan menurun seiring dengan waktu. Namun, Tuhan itu baik kok. Standar yang kita perlu untuk melanjutkan kerja kita juga disesuaikan.

Sore ini saya diajak oleh senior ke pusat kebugaran kampus, tepatnya fitness centre. Ini pertama kalinya saya mencoba tempat gym seperti ini. Biasanya cuma lihat di televisi ataupun foto. Senior saya mengajarkan sedikit banyak cara dan program work out yang baik. Satu di antaranya adalah manajemen beban. Saya kurang tahu efektifitasnya tetapi berdasarkan pengalamannya, hal ini penting. Ketika memulai work out, setelah pemanasan tentunya, gunakan beban yang besar dahulu agar ketika di pertengahan hingga akhir kita mulai lelah, kita bisa mengurangi bebannya dan tetap berlatih. Berbeda dengan memulai beban kecil dahulu, ketika kita lelah di pertengahan hingga akhir tubuh kita tak mampu lagi mengangkat beban yang lebih berat. Saat itu saya cuma bisa bilang 'Ooo...' Maklum, anak baru.

Dari pelajaran itu saya jadi berpikir bahwa kedua hal di atas mengajarkan saya hal yang sama. Semangat yang besar di awal itu sangat menentukan dan selanjutkan ditentukan bagaimana kita mempertahankan semangat itu di standar yang kita perlukan. Saya tidak tahu menyampaikannya dengan lebih baik lagi tetapi saya harap idenya tersampaikan dengan baik. :)






0 comment(s):

Post a Comment