October 15, 2012

Salah satu pemicu saya menulis adalah karena saya yakin hal baik terjadi setiap hari dan selalu ada yang bisa dipelajari dan dibagikan dari hal tersebut bahkan hal kurang baik punya sisi baiknya. Dari hal yang sangat kecil hingga hal yang sangat besar, pasti akan memberi dampak dalam hari-hari kita, tidak terlepas juga dari orang-orang yang berinteraksi dengan kita di hari-hari tersebut. Hal-hal yang menarik ini umumnya saya temukan dan saya simpan dalam ingatan untuk kemudian dituangkan dalam ornamen kata-kata seperti ini. Meski tidak semenarik yang dibayangkan, setidaknya menambah catatan untuk mengingatkan saya nantinya.

Sudah beberapa hari ini saya kaku menulis, bahkan satu bulan kemarin tidak memproduksi apa-apa. Saya sulit menemukan kata kunci untuk memulai tulisan saya. Kata kunci yang biasanya saya simpan dalam ingatan saya ketika pertama saya menemukannya. Yap, saya sulit menemukan hal baik yang menarik untuk dituliskan di beberapa waktu belakangan ini. Menutup malam di waktu yang bahkan bukan malam lagi dan membuka hari terlalu dini menjadi aktifitas terakhir saya di seminggu ini. Hal ini tidak lain karena pikiran yang ruwet dan kusut.

Ketika pikiran sedang di/terbebani, orang umumnya akan berubah sedikit sensitif dan mudah terpicu amarah. Kondisi ini entah mengapa harus saya katakan normal bagi kita manusia. Satu hal lagi bahwa pada kondisi seperti ini, umumnya akan cenderung fokus pada hal-hal negatif atau yang bersifat jelek. 
Well,
people see what they want to see.
Ketika sedang di/terbebani, kita fokus pada kekusutan dalam pikiran itu dan mengarahkan hal-hal yang berkaitan dengan kita kepada kekusutan. Pendapat di atas menggunakan kata want tetapi pada dasarnya menjurus pada fokus pikiran. Tidak heran ketika kita sedang berpikiran berat, kita akan cenderung melihat semuanya berantakan dan menjengkelkan yang mana ujung-ujungnya memancing kita untuk kesal bahkan memunculkan amarah. Benar tidak? atau salah ya?

Kemarin malam saya pergi membeli makanan di supermarket terdekat. Dari mulai pintu masuk, supermarket, kasir, hingga ke luar lagi, saya terus merasa kesal dengan orang sekitar. Entah itu orang yang jalannya ngawur ke sana kemari, jalannya lambat dan menghambat orang, suaranya ributlah, dan macam-macam lagi padahal itu hanya hal kecil yang seharusnya tidak perlu dipermasalahkan. Saya sadari perasaan ini terus terjadi setiap kali saya sedang kusut di pikiran. Saya lantas bertanya mengapa saya jadi 'kasar' begitu. Dari sini saya mengambil kesimpulan mengapa saya kaku menulis, mengapa saya susah menemukan hal baik yang menarik untuk saya tuliskan. Pikiran yang kusut ini membawa saya fokus pada hal-hal yang jelek saja dan membuatnya seolah-olah hal besar yang patut dipermasalahkan. Secara tidak langsung, telah mengabaikan hal-hal yang baik yang ada di sekitarnya.

Hari-hari ini penuh dengan hal baik dan hal jelek, hal yang kita inginkan terjadi dan hal yang kita tidak inginkan terjadi. Yang menjadi masalah hanyalah sisi yang mana yang mau kita pilih untuk kita lihat. Dari sini saya tahu bahwa saya harus belajar menenangkan pikiran dan me-manage-nya lebih baik lagi. Seberat apapun masalah yang menimpa kita, bahan pikiran yang mengikuti kita, atau bahkan hal kurang relevan yang tak sengaja malah kita taruh membebani kita, kita harus belajar mengendalikannya dan menjadi tenang. Rugi sekali melewatkan hal baik di hari-hari ini. Susah menemukannya sekarang ini tetapi selalu ada saat kita ingin lihat. Cara yang ampuh yang orang tua saya selalu siratkan ketika dahi saya mulai mengkerut adalah Berdoa dan Mengucap Syukur. Merasa kesal dan jengkel hanya mengurangi kadar kedamaian hati kita.

He works in very mysterious ways everyday, but He sure does know what He is doing. 

Mari tetap belajar terus.


pic: unknown source

0 comment(s):

Post a Comment