August 11, 2012

Satu hal yang tidak jauh berbeda antara tempat tinggal saya sekarang dengan yang dulu ada di Bandung adalah letaknya yang dekat dengan pusat olahraga. Dulu di Bandung, tidak terlalu jauh dari Saraga dan bisa dengan mudah pergi sekalinya ingin olahraga. Di sini, tempat tinggal saya hanya berjarak satu blok dari stadion nasionalnya (kalo di Jakarta, GBK mungkin ya). Meskipun sama-sama dekat dengan pusat sarana olahraga, di sini saya justru lebih rajin olahraga. Dulu, dalam sebulan mungkin hanya satu kali pergi jogging di Saraga. Di sini, lumayan lebih rutin. Tak tahu kenapa.

fitness area di national stadium
Tempat yang paling sering saya tuju adalah lapangan lari (Stadion Thephasadin), itu tuh tempat yang seharusnya jadi markas barunya Titus Bonai. hehe. Setiap kalinya menuju ke sana, saya akan berpapasan dengan fitness area yang cukup kecil tetapi ramai pengguna. Di area ini biasanya para wanita menggunakan fasilitas peralatan yang biasa ada di tipi2 itu loh. Yang DRTV atau apalah itu. Alat-alat fitness namanya. Ga tahu nama alatnya. haha. Para pria umumnya akan mengejar alat-alat berat. Maksudnya bukan mesin drilling atau excavator, tetapi peralatan angkat beban. Trennya sih begitu. Dari pengalaman saya lewat di berbagai waktu dalam sehari, lokasi ini tidak pernah sepi. Pagi dan Sore adalah waktu paling ramainya.

Satu hal yang unik yang saya lihat di tempat ini adalah para lansia. Lansia, yang saya kategorikan berdasarkan rambut mereka yang sudah beruban. Mayoritas pria yang latihan angkat beban (nge-gym) adalah sudah pada beruban, kulitnya sudah kendur, yah sudah tua lah. Heran ga?! Luar biasanya lagi, mereka bahkan mayoritas berlatih dengan beban yang lebih besar dari kaum muda. Waktu ngelihat opung-opung ini mengangkat beban yang berat banget itu, kaki saya lemas karena terkejut. haha. Jarang sih melihat begitu.

Ada yang supergranpa, tentunya tak menutup kenyataan bahwa ada juga kakek-kakek yang bahkan jalan saja sudah tertatih-tatih. Namun, tetap menakjubkan. Kenapa? Hey, mereka ada di fitness area dan tak jarang ada di track lari. Melihat badannya yang sudah bungkuk dan jalannya yang sangat lamban ternyata membuat kaki saya lemas juga. haha. Semangat sekali opung-opung ini. Sekali waktu, saya memperhatikan seorang kakek berusaha menggunakan sebuah alat fitness sampai badannya bergetar-getar tapi alatnya tak bergerak. Pada akhirnya, doi hanya memakai alat treadmill dan peregangan. Masih penasaran, sesekali dicobanya lagi. haha. Baru sore ini, di track lari saya menemukan seorang kakek yang jalan sudah sangat lambat oleh karena kakinya sudah sedikit pincang. Lagi-lagi saya berpikir,"Jumawa nih opung. Masih semangat saja latihan di sini." Kebanyakan dari para  lansia ini bahkan datang sendirian.

Dalam kondisi berlari, saya jadi berpikir alangkah malunya saya ini yang kebanyakan tidur di waktu kosong bahkan di waktu tak kosong. Waktu-waktu yang bisa diisi dengan hal produktif malah dijadikan ajang bermimpi. Menurut saya pribadi, lansia adalah saat yang hanya tersisa untuk menikmati hidup. Duduk di rumah bersama cucu, nonton TV dan aktifitas rumah lainnya. Badan yang tak seapik dulu lagi mempersulit melakukan aktifitas luar rumah yang berlebihan. Namun, para lansia ini bergegas ke pusat olahraga dan berlatih untuk tetap bugar. Kenapa malah saya yang tidur-tiduran, goyang kaki di rumah dan tak produktif? Sambil lari jadi refleksi. haha.

Hidup harus selalu bersemangat dan penuh usaha. Apa yang dianugerahkan kepada kita saat ini di dunia ini tidaklah abadi. Pada akhirnya, kemampuan kita akan luntur satu persatu. Sakit adalah menyesal tidak berbuat padahal kita tahu kita bisa saat itu tetapi kita tunda sampai kita tak bisa. Jika saya bisa bahasa Thai, mungkin saya ingin ngobrol dengan opung tadi. Mungkin sebagian teman yang membaca ini tidak semalas saya ataupun sekategori di atas, mantaplah. Semoga saya dan teman-teman yang masih tak bersemangat dan letih lesu menghadapi hidup bisa mengikutinya.

Santapan hari ini: 'jangan sia-siakan.'
Karena menyia-nyiakan berarti tidak mensyukuri dan bersyukur berarti mengasihiNya.


0 comment(s):

Post a Comment