August 22, 2012

tembakan tiga angka
Semester pertama saya awali dengan sangat mulus seperti mulusnya paha si ..... ikan salmon. Eh, maaf ikan salmon tak punya paha. Atau punya ya? Yah, pokoknya mulus lah. Beberapa minggu di awal tidak terasa sesuatu yang berat seperti yang diharapkan. Tugas-tugas masih terkendali dan dapat terselesaikan jauh sebelum waktunya. Namun, ibarat mau main basket, memang inilah pemanasan dan peregangannya.

Pacuan jantung mulai meningkat dari pertengahan hingga quarter ketiga ini. Pikiran saya sedikit sangat agak sensitif dengan yang namanya tekanan. Kalau menyadari ada tekanan umumnya pikiran akan merespon negatif dan detak jantung saya jadi lebih cepat. Sayangnya respon yang negatif itu tak pernah berbuah positif dan sering sekali menyusahkan saya. Sedikit banyak, saya sedang belajar mengendalikan ini. Tepatnya, sejak masuk bangku kuliah. Tidak tahu apakah ini permasalahan kebanyakan orang, semoga tidak. 

Memasuki quarter ke empat pertandingan semester ini, saya mulai merasakan tekanan yang besar yang sebelumnya tak saya temukan. Sedihnya adalah tekanan ini saya ciptakan sendiri. Yah, setidaknya secara tidak langsung. Di quarter hingga ketiga, saya lebih banyak menghabiskan waktu mengolah bola tanpa berniat memasukkan bola ke ring. Sesekali, mencetak poin tetapi kurang menghasilkan banyak poin. Di sisi lain, lawan mencetak poin dengan konsisten dan meninggalkan saya di belakang dengan selisih poin yang besar untuk saya kejar. 

Di quarter ke empat ini, ibaratnya tiba-tiba pak presiden datang ke pertandingan dan berteriak akan memberi sanksi besar jika saya tak bisa menang. Kaki mendadak lemas di tengah lapangan. Semoga metaforanya terbaca ya. hehe. Dengan waktu yang sedikit, harus mengejar ketertinggalan yang begitu banyak. Namun, ini kesalahan pribadi dan harus ada Epic Comeback untuk itu. Bertanggung jawab. Istilahnya terdengar keren, seakan saya melakukan hal yang baik. hehe. Namun, kalau ditambahkan kata 'kesalahan' di belakangnya mungkin maknanya akan terdegradasi sedikit. 

Salah satu isu yang umum merusak dari perhal bertanggung jawab akan kesalahan adalah kompromi. Sering kali dalam bertanggung jawab akan kesalahan, banyak nota kompromi yang coba kita selipkan. Bagaimana membuat tanggung jawab saya bisa sedikit lebih ringan, umumnya terpikirkan. Satu hal yang perlu disadari adalah setiap hal punya konsekuensinya. Bahkan hal benar, apalagi hal yang salah. Sudah melakukan hal yang salah tetapi tak ingin bertanggung jawab penuh. Rasanya memang sedikit sakit dan melelahkan ketika harus bertanggung jawab akan kesalahan. Namun, itulah letak adilnya. Tenaga ekstra akan dibutuhkan untuk itu. Butuh banyak three point shoot yang berhasil di quarter ini.

Hal ini terjadi pada saya di quarter keempat ini. Pikiran saya mulai berdiskusi untuk mencari celah berkompromi. Bagaimana jika begini, bagaimana jika begitu, bagaimana jika ini dan premis lainnya mulai bermunculan di kepala. Tujuannya satu, mau lepas dari fase susahnya bertanggung jawab akan kesalahan dan lolos dengan jalan yang cukup mulus. Untungnya, saya tidak terpeleset. Saya sadar, saya harus menyisihkan waktu lebih banyak ke pekerjaan saya karena waktu yang seharusnya saya taruh ke sini sudah saya distribusikan ke yang lain. Capek memang. Sedih juga menyadari betapa konyolnya saya. Hey, self-punishing bukan bagian dari menerima konsekuensi.

Dari kesalahan, perlu ada tanggung jawab ke depannya. Ada pelajaran dan ada perubahan. Semoga menjadi lebih baik. Jangan berkompromi lagi. Sadari kesalahan dan belajar dari itu niscaya kita bisa jadi orang lebih baik ke depannya. :)

Wish me luck! 
>_<




0 comment(s):

Post a Comment