August 3, 2012

connected socially?
Weekend yang datang terlalu cepat. Badan kaget dan sama sekali menghindari keadaan dimana bisa lebih produktif. Ah, mengesalkan. Bukan karena hari liburnya tetapi karena ketidakproduktifan ini. Mata terpejam, kemudian terbuka. Facebook jadi salah satu alternatif 'pengisi' waktu. Tak sengaja melihat daftar jumlah teman. Hmm, 1000 lebih. Penasaran dengan angka itu dan mulai cek satu persatu. *takpenting

Mayoritas adalah teman yang saya kenal sejak saya mengenal Facebook. Tidak sedikit adalah orang yang tidak saya kenal dan bahkan belum pernuh bertemu sama sekali. Saya mulai mengingat kapan terakhir kali berinteraksi dengan orang-orang tersebut. Wah, ternyata tidak pernah sama sekali dalam halaman Facebook ini. Saya mulai berpikir dan bertanya-tanya mengapa mereka dulu ingin menambahkan saya sebagai teman di FB tetapi tidak pernah memulai interaksi sosial sama sekali. Dengan catatan, kita bukan public figure. Apa yang membuat orang tak kenal sama sekali, ingin menjadi teman di FB dan tidak bersosialisasi setelahnya?

Semakin berkembangnya media sosial Online akan membuat kita lumrah dengan luasnya jaringan per'teman'an ini. Siapapun bisa menjadi 'teman' siapapun. Melihat tidak adanya interaksi sosial yang terjadi lewat akun FB tersebut dan minimnya jumlah mutual friends membuat saya mencoba mengambil kesimpulan bahwa mungkin orang tersebut tidak sengaja menemukan profil kita dari post, artikel, teman, dll dan tertarik untuk mengikuti jika seandainya ada hal baru yang kita publikasikan. Menjadi teman di FB memungkinkan kita mengetahui 'kegiatan' yang seseorang kerjakan.

Saya pada dasarnya sangat jarang menerima request jika jumlah mutual-nya sedikit. Terlihat sedikit sombong (susah berteman) tetapi bagi saya itu aneh. Meskipun fungsi jejaring sosial adalah menumbuhkan jejaring pertemanan, tetapi sering sekali saya tak menemukan itu. Malah pertemanan yang sudah ada yang dipererat lagi. Saya sering mencoba menerima request pertemanan FB seperti ini dan hasilnya selalu sama. Tak ada interaksi sosial yang terjadi bahkan sekedar perkenalan. Oleh karenanya, saya bingung.

Hal di atas membuat Twitter masuk akal dan memberikan ruang berbeda dari FB.  Kita bisa 'mendengar' dan 'melihat' orang lain dengan menjadi pengikutnya. Twitter bisa dan saya yakin memang didesain untuk memungkinkan interaksi sebelah tangan. Seseorang tidak perlu tahu siapa yang mengikutinya untuk bisa berbagi dengannya kan. Inilah mengapa saya mau menggunakan Twitter dan memberi perlakuan yang berbeda terhadap masing-masing.

Mungkin kesimpulan yang saya ambil sedikit tidak tak pantas/tepat. Namun, saya tetap penasaran. Mengapa ya? Tidak kenal sama sekali. Mau terhubung lewat FB kemudian tidak memulai interaksi sosial sama sekali. Apa rasa penasaran saya tidak terlalu penting ya? heuh, ini mengganggu pikiran saya.

CMIIW

0 comment(s):

Post a Comment