May 28, 2012

suvarnabhumi airport
Setelah 3 jam perjalanan bersama Garuda Indonesia dari Bandara Soekarno-Hatta, saya tiba di Bandara Suvarnabhumi Bangkok pukul 16.30. Bandara yang besar sekali, keren dan sejuk (AC dimana-mana). hehe. Sejak keberangkatan dari Bandung, saya sudah bertanya-tanya siapakah yang akan menjemput saya di Bangkok. Pihak CU tidak memberikan konfirmasi apakah saya akan dijemput atau saya harus jalan sendiri. Ketika berangkat ke Bangkok yang saya pikirkan hanyalah saya harap ada orang dengan kertas bertuliskan 'Reynaldo' menunggu saya di depan pintu keluar. hehe. 

Sesampainya di pintu Imigrasi, saya harus menunggu antrian yang cukup panjang. Maklum, Bangkok hampir setiap harinya didatangi orang-orang dalam jumlah banyak dari penjuru dunia secara bergantian. Keluar dari bagian imigrasi, saya segera mengambil koper saya dan menuju tulisan 'EXIT' yang tertera besar di sana. Begitu saya keluar, saya segera memindai setiap kertas yang diangkat di depan pintu keluar. Hati saya gundah gulana ketika tidak ada satupun yang memegang kertas dengan nama saya tertulis di atasnya. "Hayo... terdampar di Bandara. Negara orang pula. haha." kata saya dalam hati. Saya berusaha berpikir positif dan menunggu sebentar lagi siapa tahu penjemputnya telat.

Setelah 15 menit menunggu, saya mulai gusar dan curiga bahwa ini bukan karena telat. Saya memutuskan untuk berjalan menelusuri bandara ini. Astaga, saya baru sadar ternyata pintu keluarnya ada banyak. Jadi, dari dalam baggage claim ,orang bisa keluar dari beberapa pintu. hahaha. Saya sangka untuk setiap penerbangan ada pintu khususnya. Maklum, di Indonesia dulu lihatnya begitu. hehe. Saya memutuskan untuk berjalan terus dan tidak lupa memandangi setiap kertas yang diangkat orang sampai-sampai brosur yang diangkatpun secara tidak sadar saya perhatikan, siapa tahu ada nama saya di sana. haha. Saya perhatikan wajahnya yang keIndonesiaan tetapi ternyata itu sulit karena orang Thai mirip dengan orang Indonesia. haha.

Saya mulai berpikir untuk pergi sendiri ke alamat yang saya pegang, alamat kampus. Memang sedikit bodoh karena waktu itu sudah pukul 17.15 dan kemungkinan tidak akan ada orang di kantor ketika saya tiba di sana. Namun, saya sudah sedikit gusar. Saya berdoa dalam hati, "Tuhan tunjukkanlah. Tuntunlah saya kemana. Pergi sendiri ajalah?" Oleh karena tidak ada konfirmasi akan penjemputan, saya memutuskan untuk mencari taksi saja. Saya mengikuti papan petunjuk yang mengarahkan ke tempat mengambil taksi. Saya bingung, entah ini petunjuknya yang kurang baik atau saya yang sedikit bloon. Saya jadi naik turun ke sana ke mari karena mengikuti petunjuknya. haha. Oalah.

departure hall
Oleh karena kelelahan, saya memutuskan untuk berhenti di salah satu pintu keluar dan mengambil ponsel untuk memberi tahu keluarga di Indonesia. Sebelumnya saya lupa memberi tahu sebegitu tiba di Bangkok. hehe. Ya ampun, puji Tuhan, ketika saya mengeluarkan ponsel dan meletakkan koper saya di sebelah saya, saya melihat seseorang berdiri dengan memegang kertas yang di atasnya sepintas saya lihat kata 'NALDO'. Saya mulai senang sekaligus gugup. Saya segera mendatangi orang tersebut dan melihat kertas itu dari depannya. "MR. REYNALDO" Puji Tuhan, ternyata memang benar nama saya. Saya tertawa kemudian langsung bersalaman dan berkenalan dengan orang tersebut. Memakai Bahasa Indonesia tentunya. hehe. Namanya, kak Amir dari jurusan Teknik Elektro di kampus yang sama dengan saya di Bangkok. Saya senang bukan main. hahaha. Saya mulai menjelaskan mengapa kami baru bertemu sekarang. Pintu keluar saya letaknya jauh sekali dari pintu keluar yang ini. Pantas saja tidak ketemu daritadi. Lima menit kemudian, ada mas Lesnanto dari Teknik Elektro juga yang datang. Kedua orang inilah yang 'menyelamatkan' saya dari bandara dan membawa saya ke taksi menuju apartemen. Hooraahh!! 

Bandaranya bagus, rapi dan nuansanya keren. Sebenarnya saya ingin mengambil foto di beberapa tempat dengan saya di dalamnya, tetapi saya sudah dalam kondisi bingung dan sedikit panik sehingga saya melewatkan kesempatan itu.


Satu hal yang saya syukuri dari kejadian ini adalah Tuhan pasti menjawab doa kita kok. Hanya saja waktu dan jawabannya, tidak bisa kita pastikan. Saya berjalan dan berdoa kepada Tuhan untuk menuntun saya. Instead of leading me to the taxi area, He led me to my Indonesian seniors. Ketika saya memutuskan mencari taksi, mungkin Tuhan sengaja membutakan saya terhadap papan petunjuk , membuat saya bingung dan justru membukakan mata saya kepada orang-orang tersebut. Saya percaya ini bukan kebetulan. Suvarnabhumi adalah bandara yang besar. Sebenarnya, kemungkinannya sangat kecil saya bisa akhirnya bertemu mereka. Namun, kenyataannya saya bisa. Puji Tuhan. Jangan pernah berharap dan menggantungkan harapanmu padaNya karena Dia ada dan mendengar kita. Sabar, tekun dan setia adalah bagian kita. :)

0 comment(s):

Post a Comment