May 8, 2012

feeder sepeda busway guang zhou
menggunakan e-card untuk feeder sepeda
sumber: kompas.com
Baru saja saya membaca sebuah berita di Kompas Online. Berita tersebut dapat anda baca melalui tautan ini. Berita singkat ini berisi tentang studi banding fasilitas transportasi. Sebuah informasi pembanding penerapan Busway di Guangzhou.

Dalam berita tersebut diinformasikan bahwa ada ide yang baru diterapkan di kota tersebut, yakni sepeda sebagai pengumpan (feeder) untuk memfasilitasi penggunaan Busway. Bagi teman-teman yang mungkin sedikit kurang familiar dengan istiliah ini, feeder sederhananya adalah sarana transportasi yang membantu menghubungkan penumpang yang ingin menggunakan kendaraan publik (dalam hal ini Busway) mencapai terminal kendaraan publik tersebut. Untuk orang-orang yang berada jauh dari terminal tetapi ingin memakai kendaraan publik tersebut, tentunya perlu ada layanan tambahan sebagai fasilitas pendukung. Terminal sejatinya memiliki apa yang dinamakan perimeter dimana pada luasan sebesar itulah dianggap batas toleransi penumpang untuk berjalan ke terminal. Feeder merupakan salah satu unsur pendukung terpenting dalam penyediaan sarana transportasi publik.

Kembali ke berita mengenai Guangzhou. Sepeda menjadi salah satu alternatif feeder di sana. Layanan ini tidak serta merta gratis, melainkan berbayar dan memiliki tarif tersendiri. Pengelolaan pembayarannya sendiri sudah menggunakan e-card (kartu elektronik) yang di Indonesia bahkan tidak populer. Sepeda memang bisa menjadi alternatif yang asyik untuk sebagian orang. Selain menyehatkan, fasilitas ini bisa lebih nyaman dan irit daripada fasilitas lainnya. Di Guangzhou mungkin fasilitas ini berfungsi dengan efektif. Bagaimana dengan di Indonesia?

Gambar pada berita tersebut menunjukkan bapak kepala Dinas perhubungan DKI Jakarta yang sedang 'mencoba' fasilitas ini. Sepertinya memang ini studi banding mengenai apakah ada kemungkinan fasilitas seperti ini diterapkan di DKI Jakarta. SIA-SIA. Sedikit pahit memang kata tersebut dari saya pribadi tetapi itulah yang saya bayangkan terjadi nanti jika fasilitas tersebut diadopsi ke Jakarta. Selain akan menjadi 'hotspot' baru dalam permainan anggaran, hal itu akan menjadi pemborosan yang sebenarnya tidak perlu.

Saya ingin menyampaikannya dan berharap dinas perhubungan tidak salah ambil kesimpulan dari hasil studi banding ini. hehe. Ada beberapa hal yang saya pikir perlu kita sadari. Pertama, sepeda bukan alat transportasi yang populer di Indonesia. Saat ini, orang lebih memilih sesuatu yang cepat dan nyaman serta jika memungkinkan, tidak menguras tenaga. Agak terkesan pemalas memang tetapi itulah kenyataan apalagi ditambah kondisi cuaca di kota Jakarta. Selanjutnya, jika penerapan penggunaan sepeda mungkin dijadikan satu titik promosi 'mari bersepeda', maka saya cuma bisa bilang bahwa bukan ini saat dan sarananya.

Oleh karena saya kuliah di ITB, saya memberi contoh fasilitas sepeda kampus saya. Kampus ITB lebih kecil dibandingkan kampus-kampus negeri pada umumnya. Untuk berpindah gedung memang bisa dilakukan dengan berjalan kaki tanpa harus merasa kelelahan. Fasilitas sepeda di kampus ini cukup baik. Ada banyak titik kumpul untuk mengambil sepeda dan semuanya gratis. Cukup asyik berpindah gedung dengan menggunakan fasilitas ini. Namun, masalah yang tak terelakkan mata adalah kualitas sepeda yang menurun sangat cepat yang mengakibatkan semakin sedikitnya jumlah sepeda yang dapat digunakan. Entah itu karena kualitas sepeda yang jelek atau memang penggunaan yang sembrono, tetap kita bisa melihat bahwa perawatan akan menjadi masalah utama apabila sepeda dijadikan feeder. Dalam miniatur negara seluasan kampus saja, hal ini bermasalah dan cenderung akan memboroskan anggaran untuk pemeliharaannya. Bagaimana dalam sebuah provinsi? Inilah hal kedua yang perlu jadi bahan pemikiran.

Yang terakhir menurut saya adalah ticketing dan sistem pembayaran. Pertama kali harus diputuskan apakah ini akan berbayar atau bebas biaya. Jika bebas biaya, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan tentang pembayaran. Namun jika berbayar, maka kita harus siap menggunakan kartu elektronik yang mana tidak populer dan belum terbukti efektif di Indonesia. E-card menurut saya akan banyak mempermudah dan membantu penyedia sarana. Hal ini selain berkaitan dengan pembayaran yang tidak ribet, tetapi juga menjaga keamanan. Setiap kali terjadi penggunaan kartu, ada rekam jejak yang menunjukkan siapa yang menggunakan sepeda tersebut. Dengan demikian, kita bisa tahu siapa yang bertanggung jawab seandainya sepeda tersebut hilang atau rusak. Skenario terburuk adalah jika orang yang menggunakannya ternyata dirampok. Susahlah di negara ini terutama di Jakarta jika ingin punya kendaraan publik yang diserahkan ke masyarakat bebas.

Bagi saya, tetap feeder yang baik sampai saat ini adalah minibus seperti yang sekarang ini disediakan di Jakarta. Armadanya saja yang mungkin perlu ditambah dan selang waktu (headway) antar armadanya perlu dibuat efektif. Sepeda 

0 comment(s):

Post a Comment