May 4, 2012

seni mendengarkan
listen to your talking partner
Menurut saya, salah satu hal yang paling sulit untuk dimiliki manusia adalah kerendahan hati. Mengapa tidak? Setiap  manusia memiliki kecenderungan untuk menjadi yang benar, bangga menjadi yang tahu ataupun bersifat idealis. Kecenderungan ini tidak jarang akan berujung pada kesan tinggi hati  terutama ketika berada dalam ruang bicara atau diskusi. Kerendahan hati seseorang dapat dilihat dari apa dan caranya berbicara atau berdiskusi dalam kelompok.

Minggu lalu saya berkumpul dengan beberapa teman di sebuah 'warung'. Kami banyak mengobrol dan sesekali sedikit berdiskusi. Topiknya umum dan acak saja layaknya kumpul-kumpul anak muda sekarang lah. hehe. Satu saat, topik pembicaraan mengarah ke saya karena saya mendapatkan kesempatan untuk bermukim di negeri lain selama beberapa tahun. Saya mulai bercerita sedikit saja tentang hal itu. Salah seorang teman mulai bercerita dan sedikit memberi nasihat tentang kehidupan di sana, apa yang sedang terjadi di sana, tempat-tempat yang buruk dan bagaimana saya harus sangat berhati-hati berada di sana. Banyak hal yang diungkapkan dan akan ditambahkan teman ini tetapi saya memotongnya dengan aksen bercanda dan mengatakan "Tenang aja lah. Aku pernah ke sana kok dan aku tahu bagaimana di sana." Teman saya berhenti di sana dan pembicaraan kami berganti topik.

Sebenarnya yang ingin saya sampaikan saat itu adalah bahwa dia sedang memberi tahu apa saya sebenarnya saya tahu dan waktu itu saya berpikir itu hanya sia-sia. Namun, saya memikirkan dan menyampaikannya dengan tidak rendah hati. Saya menyadari hal ini setelahnya.  Meskipun kita sudah tahu, tidak ada salahnya mendengarkan paparan orang lain. Pada akhirnya memang informasi itu sama tetapi dengan mendengarkan dia menyampaikannya, kita menghargai posisi dan niatnya. Hal ini berarti kita tidak sedang bersifat angkuh ataupun egois. Banyak pengalaman saya yang membuat saya sebenarnya secara tidak langsung mempelajari hal ini. Salah satunya adalah ketika pada satu kesempatan, saya berdialog dengan seorang Guru Besar ITB yang sudah pensiun. Beliau bertanya banyak hal dari saya dan setiap jawaban saya didengarkan dengan baik dan ditanggapi dengan suatu kesan antusiasme yang membuat saya semangat melanjutkan pembicaraan. Beberapa pertanyaan filosofis sejujurnya saya yakin sedikit berbeda dengan pandangan bapak ini, tetapi mimik dan tanggapan profesor ini menjadikan pembicaraan itu menarik. Profesor ini menunjukkan satu contoh yang kerendahan hati dengan menjadi pendengar yang baik.

Mendengar adalah salah satu ciri orang yang rendah hati. Tidak semua orang dapat mendengarkan dengan baik khususnya dalam diskusi. Kita ingin pendapat kita didengar dan memberi pengaruh pada keputusan diskusi tetapi kita kadang melupakan bahwa orang lain juga butuh hal ingin disampaikan dan disumbang pada konten diskusi tersebut. Pria pada umumnya mengalami masalah akan hal ini. Kurangnya kesediaan untuk mendengarkan orang lain membuat pria pada umumnya cenderung tinggi hati. Dengan mendengarkan, kita secara tidak langsung kita sedang memberikan penghargaan pada orang lain. Saya berani memastikan bahwa setiap orang akan merasa senang jika didengarkan.

Pada pengalaman saya di awal tulisan ini, akan lebih baik jika saya menahan diri dan menyimaknya saja bahkan seharusnya mengucapkan terima kasih di akhir atas tambahan-tambahannya. Saya ingin membagikan ini karena sering terlupakan ketika kita berbincang-bincang bahkan pada bincang-bincang sederhana. Ada kalanya kita perlu menyimpan kenyataan bahwa kita tahu dan orang yang sedang memberi tahu sebenarnya sedang membuang waktunya. Saya masih harus belajar lebih banyak lagi tentang ini dan menurut saya kita semua sepatutnya demikian. :)

0 comment(s):

Post a Comment