May 15, 2012

berjalan di atas aspal
walking on a street (src: outdorni.com)
Siang ini kota Jakarta tidak seperti biasanya. Dalam beberapa kali pernah menyinggahkan diri di kota ini, cuaca tak pernah seramah ini terutama di kala siang. Biasanya cuaca terik, udara menyesakkan dan badan selalu gerah. Siang ini langit bahkan tampak mendung tetapi enggan meneteskan hujan. Matahari masih memamerkan teriknya tetapi sedang tidak dalam mood untuk memanggang. Angin juga sepoi-sepoi seperti sedang bahagia. Oleh karenanya, saya mau bercerita. Ini adalah tulisan ketiga di tanggal ini.

Seperti yang sebelumnya pernah saya tuliskan, saya suka berjalan. Berjalan termasuk hobi seperti sedianya para pendaki gunung dengan hobinya tersebut. Berjalan memberikan banyak esensi tersendiri yang terkadang bisa memberi inspirasi atau mungkin tidak. Tidak jarang untuk jarak yang bagi sebagian besar orang adalah jarak yang lumayan jauh, saya habiskan dengan berjalan kaki. hehe.

Tepat pukul 10.00 saya tiba di jalan blora Jakarta. Empat jam perjalanan yang mengesalkan selesai sudah. Dengan sebuah kepentingan, saya mulai melihat ponsel dan memandang kiri kanan. "Dari sini, lalu lewat mana ya?" Itu kalimat yang muncul di kepala saya. Jujur saja, ini pertama kalinya saya sendirian pergi ke Jakarta dengan modal tidak tahu jalan, angkutan, apapunlah. Biasanya juga diantar orang. haha. Tidak apa, semua orang pasti pernah melalui fase seperti ini di Jakarta, kota tujuan para pelamar kerja. Untungnya, saya sebelumnya menyiapkan sebuah peta untuk memandu saya ke tempat tujuan nantinya. Saya mulai memperhatikan peta yang saya simpan di ponsel kemudian mencocokkan dengan posisi saya sekarang. Ternyata petanya tidak berguna saudara-saudara. hahaha. Apa yang ditunjukkan peta ternyata berbeda dengan kenyataan. Maklum, fasilitas google map. LOL

Kata teman saya, orang batak adalah perantau sejati. Selain rajin merantau juga lihai mencari jalan. Jadi, saya santai saja dan tanpa menunda waktu segera bertanya arah pada satpam terdekat. "Ke sana, lalu lewat situ terus lanjut ke kanan kemudian ke kiri.. bla..bla..bla..." Buset, panjang amat instruksinya. 
"Sudah jalan aja lurus, terus ntar tanya lagi." Satpamnya mungkin nyadar dengan muka bingung saya. Menurut saya, tempat tujuan itu tidak jauh makanya saya putuskan berjalan. Satpamnya sempat heran ketika saya tanya bagaimana saya bisa sampai dengan jalan kaki. Berkali-kali pak satpam bilang kalau itu benar jauh. Namun, saya bersikeras karena menurut google map, hanya memakan waktu kurang lebih 10 menit.

Sekitar 15 menit saya berjalan, saya akhirnya menemukan tempat yang saya tuju. Sialnya, ketika mulai menyatakan maksud kedatangan kepada satpam di tempat tersebut, ternyata tempat pengajuannya bukan di situ lagi. Ditambah lagi, ternyata tempat sebenarnya berada jauh dari tempat itu. *tepokjidat* Ini dia kalau bergantung pada informasi di internet tanpa melakukan recheck. Informasi yang saya dapatkan ternyata bias. *tepokjidatlagi* Oleh karena itu, saya mulai meminta petunjuk jalan dari pak satpam lagi. Seperti sebelumnya, pak satpam ngomong panjang lebar ke sana ke sini sampai-sampai saya kembali bingung. "Yah, kamu ke sana saja terus nanti tanya lagi angkutannya yang mana" kembali lagi wajah kebingungan saya mendominasi. haha.

Tidak seperti yang dijelaskan pak satpam, ternyata cukup sederhana dan mudah. Mungkin pak satpam ada sedikit kekurangan dalam menyampaikan informasi dengan sederhana. Tidak apa, saya juga begitu. :D Tadinya memang saya berpikir akan ke sana dengan berjalan kaki, tetapi kali ini saya mengikuti saran pak satpam karena jaraknya yang disebutkan sangat jauh. Saya percaya karena ekspresi pak satpam tersebut seperti baru menerima uang 2 milyar di tangannya. "Whoooff... Jauh deek.." katanya dengan sedikit muncratan yang berhasil saya hindari dengan kemampuan agility saya yang cukup tinggi dan terlatih @#&!@# ZZzzz... cukup, hanya intermezzo

perjalanan pergi
perjalanan pergi
Setelah 15 menit naik angkutan umum, saya sampai di depan gedung Indorama karena tempat sebenarnya ada di kawasan Mega Kuningan. Saya kembali bertanya pada satpam terdekat. Enaknya di Jakarta, banyak satpam dimana-mana. Mungkin karena kawasan perkantoran yah. Gedung tujuan saya berada 200m dari lokasi saya berdiri. Jalan kaki cukup lah. Di samping kiri adalah rute perjalanan pergi saya.

Tik...Tok...Tik...Tok...
Satu jam saya habiskan di gedung ini dan urusan selesai. Untuk urusan sejam inilah saya ke Jakarta dan sekarang langsung akan pulang dengan jasa shuttle yang sama. Jam tangan saya yang masih berputar menunjukkan pukul 11.30 dan saya punya seat yang terpesan pukul 14.00. Masih ada 2 jam untuk menuju ke sana. Saya bertanya lagi pada satpam terdekat dan kembali mendapatkan jawaban yang sama. "Waaahh... kalau jalan, jauuuuhhh!! Mending naik angkutan X terus turun di Y lalu naik Z kemudian lanjut ke W selanjutnya sampai" Eaa... lagi-lagi riweuh naik angkutan umum.

"Makasih pak. Saya coba-coba saja kalau begitu." jawab saya.
Tentunya saya tidak sedang menerima saran pak satpam. hahaha. Saya kembali memutuskan berjalan kaki. Kali ini adalah yang paling menantang. Kembali ke jalan Blora. Dengan modal Direction Guide di ponsel dan kaki yang kuat, saya mulai berjalan. :D Banyak hal yang membuat saya memutuskan berjalan lagi. Pertama, cuaca sangat mendukung. Kedua, masih punya banyak waktu. Ketiga, bisa melihat satu per satu gedung di sekitar dan aktifitas orang-orang di dekatnya. Keempat, melakukan uji coba tentang rencana pak Jokowi yang mau mengutamakan pergerakan pejalan kaki di Jakarta. Alasan ketiga terkesan katrok ya? hahaha.. Saya memang senang observasi.

Berbagai kedutaan saya lewati. Tidak ketinggalan gedung-gedung pemerintahan, stasiun televisi, perhotelan, dan masih banyak lagi. Beberapa orang pacaran saya dampingi, pegawai kantor bermuka lusuh yang hendak mencari makan juga masuk potret mata saya, berbagai satpam dengan mata tajam, anak-anak muda yang sekedar duduk di pinggir jalan, tidak lupa juga yang paling berkesan yakni bapak tukang ojek yang silih berganti menyamperi saya, serta masih banyak lagi menjadi langganan selama perjalanan. 

Mengapa paling berkesan?
Banyaknya pak ojek yang menghampiri saya membantu saya menarik kesimpulan bahwa mungkin sangat jarang ada orang yang berjalan kaki di Jakarta apalagi untuk jarak yang jauh seperti saya. Kebanyakan mungkin akan menggunakan ojek ataupun sarana angkutan umum. Saya cuma tersenyum saja melihat ojek-ojek yang bergantian datang ini.

Sesekali saya berhenti untuk mengecek Direction Guide dan meneguk beberapa mili liter air putih. Sudah menjadi kebiasaan bagi saya membawa botol air jika bepergian. Namun, mungkin kali ini persiapannya sedikit tidak mencukupi atau kurang banyak. haha. Tidak terasa, sudah setengah jam saya berjalan dan ternyata setengah perjalanan saja juga belum. Oleh karena saya punya banyak waktu, saya menikmatinya dan kembali berjalan.

Cara berjalan saya yang cepat dan seperti orang buru-buru ternyata berhasil membuat kemeja saya basah. Setelah satu jam berjalan, baru saya sadari ada bagian kemeja saya yang sudah basah oleh keringat. Alamak, lupa bawa baju ganti. Lagi-lagi kurang persiapan. Yasudah, tidak apa. Kemejanya kemudian saya buka agar tidak terlalu panas dan keringat tidak cepat keluar, kebetulan saya memakai kaos dalam. Dengan kondisi seperti ini, anehnya orang-orang yang saya lewati tidak ada yang merasa heran (atau memang tidak memperhatikan, am not really sure). Semuanya melihat sekilas saja padahal tadinya saya sudah pasrah seandainya dipelototin karena kondisi kemeja saya yang sudah basah.

perjalanan kembali
perjalanan kembali
Singkat cerita yang tidak singkat ini, satu setengah jam durasi berjalan telah saya lewati dan saya sukses kembali ke jalan Blora lagi. Jam tangan menunjukkan pukul 13.00 dan saya masih punya waktu kosong lagi. Tidak melelahkan, cuma sedikit basah. hahaha. Ruang AC menjadi pilihan utama untuk duduk sebentar agar kemudian bisa makan siang. Penampilan saya sudah seperti preman saja. Jeans biru, sepatu besar, kaos putih dan memegang kemeja di pundak. Kaki saya tidak lelah sama sekali, mungkin karena saya menikmatinya. Hanya saja, kepala saya pusing karena kurang minum air. Satu jam menunggu keberangkatan untuk pulang ternyata lebih dari cukup untuk saya mengeringkan badan dan kemeja. Yah tak perlu tahulah bagaimana caranya saya kering. hahaha.

Pukul 14.00 mobil berangkat dan saya tidur pulas hingga tiba 17.00 di jalan Cihampelas kota Bandung. Saya bersyukur masih bisa berjalan dan menikmati sedikit jalanan kota Jakarta dengan kaki ini, masih bisa menggunakan mata ini untuk menangkap potret kecil kota Jakarta dan masih punya mulut yang mampu berbicara untuk bertanya pada orang. Perjalanan yang tidak biasa dan menambah pengalaman. 
Bukan cerita yang menginspirasi tetapi out of the box dan sedikit konyol. :p

Salah satu produk susu menantang untuk melakukan 10.000 langkah per hari. Sepertinya, bukan hal yang sulit jika hanya 10.000 langkah per hari. Hahaha...

0 comment(s):

Post a Comment