May 2, 2012

easy walking
leonardo walking
Saya adalah orang yang sangat senang berjalan kaki. Berjalan kaki mulai menjadi hobi sejak saya masuk SMA. Saya dapat melihat banyak hal ketika berjalan kaki dan saya dapat berinteraksi dengan banyak hal di perjalanan. Kebiasaan saya ini terkadang juga menyusahkan karena setiap saya mencapai tujuan, saya selalu berakhir dengan baju yang sedikit dibasahi keringat. Bagaimana tidak, saya tidak terbiasa berjalan lambat. Kecepatan berjalan saya sedikit lebih tinggi dari kecepatan berjalan normal orang biasanya. Cara berjalan saya yang lumayan cepat terkadang membuat saya tidak sabaran ketika berjalan dengan teman karena mereka cenderung berjalan lambat. Hal ini yang terkadang membuat saya berada di depan sendirian ataupun memilih berada di belakang sendirian.

Hari ini saya berjalan kaki seperti biasanya, dengan cepat. Saya lewat di trotoar jalan daerah Simpang Dago, Bandung. Jika anda pernah ke sana, anda akan tahu bahwa tempat itu bahkan bukan trotoar lagi karena diisi oleh banyak pedagang kaki lima. Oleh karena banyak pedagang kaki lima di sana, di beberapa tempat hanya ada ruang untuk satu orang berjalan padahal ada dua jalur yang berlawanan. Satu waktu ketika menuju bagian yang menyempit itu dimana hanya bisa dilewati satu orang, saya melihat ada ibu-ibu di depan saya yang menuju area menyempit itu tetapi dengan arah yang berlawanan dengan saya. Saya lantas menghentikan langkah cepat saya dan menunggu ibu itu lewat duluan.

Apa yang terjadi? Selagi saya menunggu ibu ini lewat, ibu ini malah memperlambat jalannya sambil lihat-lihat isi toko yang dilewatinya. Kecenderungan emosi saya yang tinggi membuat saya sedikit kesal dan menggumam di sana. Dalam hati saya berkata, "astaga, sudah diberi jalan, dikasih lewat loh kok malah ngelambat dan sempat-sempatnya lirik-lirik toko. Ada orang yang nunggu, bu.."

Sejenak saya berpikir ibu tersebut layak ditegur. Namun, sembari saya duduk di angkot saya berpikir. Setiap manusia pada dasarnya ingin dihargai. Saya ingin, begitupun juga ibu itu. Saya tersadar bahwa saya sebenarnya bukan sedang melihat apa yang seharusnya, tetapi saya sedang melakukan defense terhadap kebutuhan saya. Saya butuh berjalan cepat dan ibu itu membuat saya menunggu. Itulah yang membuat saya kesal. Namun, apakah pada waktu itu saya memikirkan kebutuhan ibu itu?

Tidak. Sepintas pada waktu itu benar-benar semua tentang saya. Terlepas dari kenyataan apakah ibu itu memikirkan bahwa ada yang menunggu dia lewat atau tidak, apa yang saya pikirkan waktu itu ternyata salah. Saya menggumam dengan egoisnya dan mengotori pikiran saya dengan kekesalan dan kemarahan. Padahal jika saya sejenak menyadari bahwa ibu ini mungkin memang sedang jalan-jalan dan butuh memanjakan matanya atau mungkin sedang bingung hingga dia butuh melihat kiri kanan atau apapun itu, maka mungkin saya tidak perlu naik emosi dan menggumam kesal. Saya bisa lebih memancarkan energi positif saja.

Mungkin ada, yang membaca, menganggap saya terlalu berlebihan memikirkan hal seperti ini. hehe. Namun, inilah kenyataan yang sering terjadi akibat perbedaan kepentingan. "Saya butuh begini, kenapa kamu tidak mengerti dan menghargai itu." 
Perhatikan televisi kamu dan kamu akan menemukan apa yang saya maksud.

Andai saja setiap orang bisa saling menghargai bahkan dari hal sekecil ini. Mungkin kebencian, kedengkian, iri hati akan berkurang di muka bumi ini. Mungkin kita bisa menciptakan dunia yang lebih baik. Apa kita sepaham di sini? :)

0 comment(s):

Post a Comment