May 19, 2012

lilin bercahaya
pelita
Di kalender, memang hari paskah sudah satu bulan berlalu bahkan kamis kemarin tepat peringatan hari kenaikan Tuhan Yesus. Namun, perayaan paskah bukan karena kalendernya tetapi karena kejadiannya. Kejadian kebangkitan Tuhan Yesus yang kita peringati di hari paskah adalah suatu kejadian yang agung dan menjadi salah satu inti dari pernyataan kuasaNya.

Perayaan Paskah bersama PMK ITB baru dilangsungkan kemarin. Ada satu tagline yang ditonjolkan. You are The Light. Show up Your Light. Benar, memang kita jemaat Tuhan adalah terang dunia seperti yang Tuhan firmankan dalam Matius 5:14. Jika kita adalah terang, maka sepatutnya sekitar kita bukanlah gelap karena gelap pergi ketika kita ada. Namun, sudahkah hal itu terjadi? atau lebih mendasar lagi, apakah kita memang benar sudah menjadi terang? Saya tertegur oleh firman di kebaktian kemarin.

Menjadi terang dunia bukanlah suatu keistimewaan kita tetapi adalah buah dari persekutuan pribadi kita yang intim dengan Tuhan. Terang sejati itu adalah Tuhan Yesus itu sendiri. Dengan demikian, adalah mustahil seseorang menjadi terang dunia jika persekutuan pribadinya dengan Tuhan tidak berlangsung baik. Menurut saya, sering dan banyak kita mungkin berpikir tentang ayat 14 itu seperti ini: "wah, aku harus berbuat yang baik dan kudus agar pas disebut terang dunia." padahal justru karena kita dijadikan terang terlebih dahulu oleh Tuhan maka perbuatan kita dipimpin oleh Roh Kudus menjadi lebih baik dan menerangi sekitar. Ada sesuatu yang terbalik di sana sehingga kita mengincar Tuhan belakangan. Untuk itu, mari kita sama-sama menilik hati kita masing-masing tentang apa sebenarnya makna 'kamu adalah terang dunia' itu bagi kita?

Ada satu cerita hidup yang dengan baik menganalogikan hal ini. Saya menemukannya di buku I, Isaac, Take Thee, Rebekah karangan Ravi Zacharias. Di sana tertulis mengenai sebuah peraturan dalam kebiasaan memancing ikan Trout.
I am not a fisherman, but the other day I read some simple rule of fishing. One was this, Be sure your face is toward the light! The skillful fisherman will always see that the sun shines upon his face and that his shadow falls behind him. He who turns his back to the sun and lets his shadow darken the stream has said good-bye to all the trout.
Konteks penulisan Mr. Ravi di sini memang tentang pernikahan tetapi jika kita membacanya dengan seksama, maka kita akan menemukan bahwa memang demikianlah seharusnya kita ketika hendak menjadi terang. Ketika kita hendak menjadi terang, kita haruslah selalu mengarahkan wajah kita pada terang yang sejati itu, Tuhan Yesus. Ada hal yang kita harus kerjakan di depan, tetapi jika hal itu 'digelapkan' karena bayangan kita maka bagaimana kita bisa mengerjakannya? Satu-satunya cara menjadi terang adalah mengarahkan padangan padaNya dan mendekatkan diri setiap hari kepadaNya.

Mari sama-sama kita perbaiki persekutuan pribadi kita dengan Tuhan. Kita mungkin punya mimpi mengubah dunia atau menjadikan dunia lebih baik tetapi tanpa persekutuan pribadi yang baik dengan Tuhan, kita tak mampu. 

0 comment(s):

Post a Comment