May 3, 2012

(sumber: mesosyn.com)
Apa yang menjadi ciri khas mahasiswa? Penampilannya? Cara bicaranya? Cara hidupnya? Bagi saya, Idealisme adalah kata yang paling tepat untuk menyatakan ciri khas mahasiswa. Masa mahasiswa adalah masa terbaik pengukuhan idealisme seorang mahasiswa. Idealisme kental yang dibentuk perlahan dari masa sekolah menengah, dikukuhkan di sini, di bangku kuliah. Bukan masalah kampusnya, tetapi tahap kehidupan yang dilewatinya. Pada tahap ini, pemikiran seseorang banyak ditempa dan menghasilkan pemikiran-pemikiran kreatif dan konstruktif. Banyak visi, harapan dan asa untuk diri, bangsa dan negara muncul di tahap ini. Idealisme yang begitu kental tidak jarang menempatkan mahasiswa pada garis terdepan dalam mengkritisi banyak hal. Kampus seakan menjadi kawah candradimuka sementara.

Suatu ketika teman saya menuliskan sebuah status di jejaring sosial yang sederhananya demikian:
"hai mahasiswa, dapatkah idealismemu bertahan setelah keluar dari kampus?"

Idealisme yang kental itu memang mudah sekali dilunturkan setelah lepas dari status mahasiswa. Banyak hal yang bisa menjadi penyebab. Saya ingin berbagi pengalaman saya setelah hampir setengah tahun menjadi mantan mahasiswa. Salah satu hal yang menantang keteguhan idealisme adalah status. Status pengangguran dapat membawa tanggapan negatif baik dari orang sekitar terutama teman, keluarga maupun teman keluarga. Untuk sebagian orang, tanggapan orang sekitar dapat menjadi penentu. Demi memperoleh tanggapan yang lebih sesuai dengan yang diinginkan, idealismupun luntur tanpa disadari.

Salah satu penyebab lainnya adalah kekayaan. Sudah bukan barang baru jika berbicara mengenai kekayaan sebagai asal perubahan seseorang. Mungkin semasa mahasiswa, keras sekali berpendapat kritis tentang bekerja di perusahaan asing ataupun kerja di tempat-tempat yang bergaji besar meskipun tidak disukai. Namun, berikutnya kenyataan dapat berkata lain ketika mata melihat teman-teman sebangku kita kuliah mulai satu persatu memiliki kehidupan yang 'menarik' akibat kekayaannya yang perlahan mencukupi.

Banyak lagi hal yang menggoyang idealisme kita usai menanggalkan status mahasiswa tersebut. Perlu integritas dan kredibilitas untuk menjaganya. Kita sebaiknya selalu ingat bahwa jika kita yakin idealisme kita benar (dalam hal bernegara kita, Pancasila lah landasannya) maka kita harus benar-benar menjaganya. Tembok yang kita bangun sedemikian rupa untuk menghadang dan menyaring apa yang masuk ke diri kita akan sangat ironis jika harus runtuh di tangan kita sendiri. Idealisme tidak boleh luntur tetapi ditempatkan pada tempat yang benar dengan kesantunan sesuai kearifan lokal. Semangat terus teman. Kita punya bagian besar dalam perubahan. Jangan sia-siakan peran dan kesempatan kita! :)

0 comment(s):

Post a Comment