April 4, 2012

locked out
terkunci
Siang tadi, ada kejadian bodoh yang menimpa saya. Di Bandung, saya tinggal di sebuah rumah kontrakan. Tinggal berdua dengan seorang kakak kandung yang sedang melanjutkan studi. Tadinya bertiga, tetapi abang saya sudah setahun bertolak ke timur Indonesia untuk memulai karir. Rumah kontrakan kami kecil dan hanya punya satu pintu masuk. Sebenarnya ada 2, tetapi yang satu tidak bisa dikunci dari luar. Masing-masing kami memiliki satu pasang kunci pintu.

Kejadian ini benar-benar suatu kesialan dikombinasikan dengan kecerobohan. Biasanya jika kami keluar rumah, kami akan membawa satu pasang kunci saja yakni milik kami sendiri. Namun, entah ada angin apa, kakak saya membawa dua pasang kunci. Mungkin lupa dengan kuncinya sendiri. 
"Aku pergi ya...", katanya meninggalkan rumah.
"Mmm..", jawab saya.
Dengan kata lain, meninggalkan saya tanpa kunci untuk membuka pintu.


Saya baru menyadari hal ini setelah 2,5 jam kakak saya pergi. Ketika itu saya hendak pergi ke luar untuk mengikuti kursus. Tersadar tak punya kunci sama sekali, ekspresi awal saya adalah kebingungan. Sesaat kemudian, keluarlah asli saya. Dengan muka geram, saya mulai bongkar sana sini. Tidak ketemu juga, barulah saya menyimpulkan bahwa kunci saya terbawa kakak. Segera saya ambil ponsel untuk menghubunginya dan sesuai dugaan saya, panggilan tidak diangkat karena sedang kuliah.


Astaga, sialnya.. Kenapa bisa ceroboh bawa kunci orang. Inilah yang ada di kepala saya sepanjang kurang lebih 15 menit waktu berjalan. Namun, saya mulai menenangkan diri (yang mana sangat sulit dilakukan saat emosi). Saya mulai berpikir, kenapa harus melihatnya sebagai suatu kesialan dan marah-marah kepada orang lain. "Tenang sebentar", berkata dalam hati.

Sedikit tenang, saya ambil ponsel dan menghubungi guru kursus yang kebetulan adalah private class, dengan intonasi yang 'bodoh' mulai minta maaf dan menjelaskan halangan yang membuat berhalangan hadir saat itu. Selanjutnya, mengirim pesan singkat ke pertemuan lain yang seharusnya dihadiri pada pukul 4 di hari yang sama. Setelah itu, mencoba menghubungi lagi kakak saya. Ternyata benar, kuncinya ada di dia dan dia baru pulang kuliah sekitar jam 6. Yah, mau bagaimana lagi.

Setelah tenang, saya mulai tersenyum di cermin. *tapi ga berlebihan*. Saya mulai flashback ke belakang. Seandainya tadi siang setelah kakak saya sudah pergi kuliah, saya pergi keluar membeli makan siang, mungkin saya sadar bahwa saya sedang tidak punya kunci. Saya mungkin bisa menyusulnya ke kampus dengan keluar dari pintu ke-2 tadi dan saya tidak perlu membatalkan janji. Namun hal itu tidak saya lakukan karena terlalu asyik dengan apa yang saya kerjakan di depan laptop (baca: nonton film). Bahkan, makan siangpun tidak. Hufhh...

Pada akhirnya, itu semua kan sudah terjadi. Menyesal tiada arti. Saya cuma bisa ngomong di cermin bahwa saya harus belajar dari kejadian ini dan tertawa sendiri memandang diri. Saya harus mulai mengurangi waktu saya di depan laptop atau setidaknya meningkatkan efektifitas dan efisiensi waktu kerja saya di depan laptop. Kejadian seperti ini mungkin saja bisa terulang.

Bukan sepenuhnya kesalahan orang lain maupun saya. Hanya saja timing-nya begitu tepat. hahaha.

Singkat cerita, pukul 6 sore, kakak saya pulang dan membuka pintu rumah dan membawa pulang sepasang kunci saya. Problem Solved.


0 comment(s):

Post a Comment