March 20, 2012

snmptn
Ekspresi ketika ujian tertulis SNMPTN
sumber: hariansumutpos.com
Baru-baru ini saya mendengar sebuah manuver baru dalam kebijakan pendidikan di Indonesia. Setelah keributan perihal UAN, sekarang ternyata ada rencana peniadaan jalur ujian tulis SNMPTN. Sebagai implikasinya, jalur masuk perguruan tinggi berubah menjadi seluruhnya melalui jalur undangan SNMPTN. Mengapa harus dihapuskan ya? Saya mencoba memaparkan pendapat saya di bawah ini. Pendapat ini bukan hasil kajian melainkan pemikiran sepintas saya selama beberapa hari setelah mendengar berita ini dan juga dari pengamalan hidup saya. :)

Terus terang saya tidak sepaham dengan keputusan seperti ini. Hmm.. Memang benar SNMPTN jalur undangan merupakan sebuah inovasi kebijakan yang bagus dan menemukan bibit-bibit unggul terutama di daerah-daerah yang bukan 'kota'. Namun, tidak menjadi alasan yang kuat untuk menjadikannya sumber satu-satunya bagi SNMPTN.

Pertama, ujian SNMPTN pada hakikatnya juga memiliki fungsi yang sama yakni mencari bibit unggul. Ada saja siswa yang kurang baik prestasinya selama 3 tahun sekolah dikarenakan berbagai alasan. Mungkin siswa ini sebenarnya punya potensi tetapi sistem pembelajaran tidak membuatnya nyaman sehingga sekolahnya sedikit terlantar atau mungkin siswa yang khilaf dan baru insyaf ketika menjelang akhir masa SMA-nya. Bukan sesuatu yang aneh, karena benar sering terjadi dan ditemukan. Ujian tertulis SNMPTN menjadi ladang subur bagi mereka untuk menanamkan cita-cita. Jika ujian ini dihilangkan maka ibaratnya ladang tersebut digusur habis-habisan dan tak ada lagi tempat menaruh harapan. Beralih ke ujian mandiri? Ujian mandiri sudah menjadi ketakutan banyak siswa karena besarnya biaya yang harus ditanggung nantinya.

Kedua, bukan saya merendahkan kualitas sekolah di Indonesia. Namun, pada kenyataannya memang nilai sewaktu SMA tidak selalu mencerminkan tingkat kecerdasan seorang siswa. Saya juga pernah mengenyam pendidikan Sekolah Menengah Atas dan saya sendiri menyaksikan banyak teman saya yang tidak pernah sekalipun meraih peringkat di kelasnya bahkan cenderung diremehkan tetapi diterima di perguruan tinggi ternama di Indonesia bahkan sekarang sudah lulus dan bekerja di tempat yang mapan. 

Ketiga, menyerahkan pencarian bibit unggul ke sekolah-sekolah hampir terlalu berbahaya menurut saya karena akan membutuhkan kontrol dan pengawasan yang super. Mengapa super? Bagaimana tidak, kecurangan bisa saja terjadi bahkan isu pengkatrolan nilai (*yang menurut saya sih sebenarnya sudah rutin terjadi) diangkat menjadi beban berat atas keputusan ini. Dan saat ini kita sedang berbicara mengenai hampir seluruh SMA yang ada di Indonesia. Sekali lagi, bukan merendahkan sistem di sekolah-sekolah tetapi memang menurut saya kondisi saat ini masih tidak menjamin.

Berbicara mengenai hal jeleknya, rasanya tidak adil jika tidak menyoroti juga bagian baiknya. Sisi baik dari menghilangkan ujian tertulis ini menurut beberapa orang adalah 'memaksa' siswa untuk lebih berpacu mengejar prestasinya di bangku SMA bahkan sejak kelas X. Hal ini mungkin berkaitan dengan UAN yang disebut-sebut tidak menghargai jerih payah siswa karena usaha selama 3 tahun untuk lulus harus ditentukan oleh ujian 3 hari tersebut. Dengan SNMPTN jalur undangan, jerih payah siswa selama 3 tahun benar-benar dihargai karena dijadikan penentu untuk kesempatan pendidikan yang lebih tinggi.

Pada akhirnya, saya masih mengharapkan ujian tertulis SNMPTN ini tetap ada. Tetap ada ujian SNMPTN dan ada jalur undangan SNMPTN dengan porsi masing-masing.  

berita terkait:

nb:
mohon apabila ada kesalahan informasi, tolong dikoreksi.
terima kasih. :)

3 comment(s):

  1. UN = ujian evaluasi
    SNMPTN = ujian seleksi
    UN (dan raport) tidak valid kalau dijadikan alat seleksi masuk PTN.

    http://jagoantpa.com/info-snmptn/sistem-penilaian-snmptn/

    ReplyDelete
  2. Wah, sori. Belum update berita lagi sih.
    Jadi, belum tahu kelanjutannya bagaimana. hehe.

    ReplyDelete