March 29, 2012

penderes karet
penderes sedang menggores batang pohon karet
Waktu masih anak SMP, perasaan ingin sekali masuk ke SMA yang ternama (*punya nama* blum tentu *berprestasi* :p). Setelah diterima SMA, perasaan ingin sekali masuk kejuruan favorit. Setelah sampai di kelas 3, perasaan ingin sekali tetapi was-was masuk universitas dan jurusan yang mana dan apakah sesuai minat. Setelah diterima di universitas, perasaan ingin cepat-cepat lulus. Setelah lulus, perasaan ingin cepat kerja tapi dimana. Setelah itu, apa lagi? Setelah itu, terus berharap apa lagi? Semakin sering kita berharap, semakin banyak saat-saat dengan ketidakpastian kita jalani.

Sejumlah tahapan hidup di atas adalah tahap-tahap yang diisi dengan kondisi ketidakpastian. Setiap bertemu kondisi ini umumnya kita sering jatuh pada hilangnya semangat atau bahkan keputusasaan. Tidak sedikit orang yang memilih untuk berhenti berharap dan menghindari kondisi tersebut. Padahal, orang yang hidup tanpa harapan pada hakikatnya sudah mati setidaknya dalam batinnya. Menantikan hasil suatu rencana memang menyengsarakan teman-teman. Namun, bukan kesengsaraan yang kita lalui yang menjadi isu utamanya melainkan proses upgrading diri yang kita lewati dengan menghadapi kondisi ketidakpastian itu.

Suatu kali saya sedang mengobrol dengan ayah saya.
Beliau bertanya, "sudah berapalah isi kantongmu itu sekarang?"
"Yah, segitulah. Cukup-cukup makan. Belum sebesar merpati yang dikirim dari tanah papua sana.", jawab saya. (kebetulan abang saya kerja di tanah papua)
Beliau lantas melanjutkan, "yah, ga apa-apa. Jangan berkecil hati jika karna sudah sarjana tapi belum bisa berpenghasilan besar. Harus seperti karet* itu. Dia datangnya tetes demi tetes dan lama pula tapi harus sabar dan tekun menunggunya karna kalau dipaksa keluar deras, memang bisa tapi pokok pohon karetnya mati seketika padahal pohon karet bisa dimanfaatkan sampai puluhan tahun."

Yang menjadi poin beliau yang saya dapatkan adalah yang penting bagaimana kita bisa belajar tekun, sabar dan bersyukur dengan apa yang kita lalui sekarang. Menghadapi kondisi sulit seperti ketidakpastian akan sangat menyengsarakan ketika rasa syukur itu hilang dari diri kita. Saya pernah merasakannya dan saya tidak ingin merasakannya lagi. Kita perlu membayangkan bahwa kita memang sedang menunggu tampungan karet itu penuh seperti adanya. Mencari jalan pintas untuk segera meninggalkan kondisi pelik hanya akan membawa kita pada hal baik untuk sementara tetapi hal buruk berikutnya. 

Untuk para gamer mungkin mengerti rasa senangnya ketika karakter kita naik level. Rasanya menyenangkan dan bangga karena kita sudah berhasil melewati berbagai kesusahan dan beroleh berbagai pengalaman (experiences). Menurut saya, tak jauh bedanya dengan kehidupan kita sehari-hari.

Pada akhirnya, memang kondisi naik turunnya kehidupan pasti dirasakan setiap orang. Tetaplah bersyukur teman karena dibalik rasa syukur itu ada kepastian yang mutlak yakni bahwa yang terbaik yang kita butuhkan akan dicukupkan kepada kita dari Yang Maha Esa.


nb: 
*cara memanen getah karet adalah dengan menggores batang karet dan membiarkan getahnya mengalir dan menetes perlahan. Tetes demi tetes ini ditampung dalam wadah kecil yang kemudian akan dikumpulkan beberapa hari yakni setelah wadahnya penuh. Demikian hingga tetesannya hampir tak ada lagi. Selanjutnya pohon karet membutuhkan waktu 2-3 hari untuk memproduksi kembali getah karet tersebut.


0 comment(s):

Post a Comment