December 14, 2011

Siang tadi, saya beranjak dari lab. desain komunikasi visual menuju lab. rekayasa jalan. Namun, karena ada keperluan yang harus ditanyakan, saya kembali ke bagian depan ITB menuju gedung Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan. Sesaat setelah tiba di depan gedung fakultas sempat melihat keramaian di Gerbang Ganesha. Ekspresi pertama adalah: "Apa itu? Wah, mungkin aksi solidaritas."

Usai menyelesaikan urusan di gedung fakultas, saya menyempatkan diri menuju Gerbang Ganesha dan memperhatikan apa yang sedang mereka lakukan. Ternyata ada demonstrasi ringan di depan ITB. *(1 .Suaranya tidak terdengar begitu jelas tetapi saya ogah untuk mendekat. Lebih baik bertanya pada pak satpam. hehe. Pak satpam kemudian menjelaskan maksud kedatangan mereka. Dari belakang saya, seseorang memanggil "Mas... Mas..". Saya menoleh dan kemudian dia lanjut berkata, "Do you speak English?". Nah lo, kirain dia sedang bercanda karena awalnya kan dia memanggil saya dengan 'mas'. Namun, pada kenyataannya tidak. Dia adalah salah satu mahasiswa Internasional yang dugaan saya mengambil jurusan Sekolah Farmasi. 

"Yes." jawab saya. Percakapan dimulai dan berlanjut. Dia tertarik tentang apa yang sedang dilakukan teman-teman mahasiswa ini. Saya menjelaskan sebisa dan sepengetahuan saya berdasarkan info dari om satpam. Respon yang saya terima berkali-kali dari dia dan saya hanya bisa jawab I-Don't-Know, I-Have-No-Idea adalah "So, Why are they protesting?" Dia tidak mengerti jalan pikiran mereka. Dia kaget ketika saya bilang bahwa yang sedang demo bukan mahasiswa ITB. Mereka datang untuk mengundang solidaritas mahasiswa ITB. Dia merasa bingung dan tidak paham mengapa mereka melakukan demonstrasi atau mungkin boleh dikatakan aksi mengundang solidaritas dari mahasiswa ITB tersebut. Kapasitas saya tidak pada bagian menjawab itu maka saya tidak menjawabnya.

Singkat cerita, dia lantas kemudian pergi dan mengatakan bahwa dia tidak punya waktu menyaksikan hal b*d*h semacam ini. Saya hanya bisa tersenyum saja. Mungkin dia merasa aneh  dan tidak sampai ke pikirannya tentang dasar terjadinya demo ini. hehe.

Belakangan saya ketahui bahwa Tizar, Presiden KM-ITB diberikan 'souvenir' unik dari para demonstran sebagai simbolisasi 'anak ITB banci'. Wah, sedikit kasar tetapi yah memang begitulah biasanya demonstrasi.

Tanggapan dari saya pribadi adalah: KM ITB mengambil sikap yang menunjukkan karakter mahasiswa yang sebenarnya. Saya turut berduka cita sedalamnya atas lae Sondang, tetapi saya tetap merasa aksi solidaritas tidak mengubah apa yang menjadi kegundahan beliau. Saya tidak tahu apa yang mengunci hati dan pikirannya saat itu. Namun, saya yakin bukan aksi solidaritas yang menjadi beban hatinya. Mari berpikir lebih sehat dan memberikan lebih banyak karya daripada hal-hal yang semu dan sementara. Kalimat ini tidak memberikan penegasan bahwa ITB sudah banyak berkarya melainkan memberikan gagasan yang terbaik saat ini untuk kemahasiswaan saya rasa. Mari menunjukkan sikap intelektual yang menjadi identitas mahasiswa itu sendiri.

Sejauh ini, karena terburu-buru, saya tidak bisa menuliskan banyak isi hati. hehe. Namun, pada intinya saya senang dengan sikap KM ITB dan saya turut berduka cita atas meninggalnya Sondang Hutagalung.

bacaan terkait:

pic:

1 comment(s):

  1. Wow... Menarik banget ini ada pendapat dari mahasiswa internasional... di ulas lebih mendalam dung Rey...

    ReplyDelete