November 10, 2011

Ketika memandang kata PAHLAWAN (pah.la.wan, kb: terkenal karena keberanian dan rela berkorban), bukan nama Superman, Suparman, Sudirman yang muncul di kepala saya melainkan sosok lain yang mungkin dikenang hampir seluruh dunia sampai saat ini. Perkenalkan, namanya: Mario Bros. :D

Apakah anda mengenal Mario Bros? Pasti tidak ada yang menjawab ‘tidak’. Karena kan barusan saya perkenalkan. :p  Yap, meskipun hanya karakter permainan tetapi Mario Bros adalah permainan yang mengantarkan saya pada pengertian sosok pahlawan.

Mario hanyalah seorang tukang ledeng biasa dengan jiwa yang luar biasa. Mario itu rendah hati, terlihat dari makanan kesukaannya yang sederhana yakni  jamur yang bisa didapatkan di batu. Mario itu mau belajar, lihat saja setiap kali melakukan kesalahan pasti Mario mencoba lagi dan melakukan yang benar.

Banyak yang bisa dipelajari setiap kali saya mengingat stage demi stage ketika menyaksikan aksi  Mario menyelamatkan Putri yang dikasihinya. Ragu dengan keberaniannya? Saya rasa jika kita dihadapkan dengan bola api, jurang yang lebar, binatang penyerang manusia, hingga buaya yang bisa berdiri maka tidak satupun dari kita yang sanggup melewatinya dengan senyum sepanjang jalan. Perhatikan Mario, dia tak pernah cemberut kala bertualang. Mario selalu punya cara mengatasi ketakutannya, dan bergerak dengan berani.

Ragu dengan pengorbanannya? Saya rasa jika kita dihadapkan dengan berbagai kesulitan kemudian dipaksa melanjutkan perjalanan dengan berbagai cuaca dan kemalangan yang bertubi-tubi, maka tidak satupun dari kita yang sanggup mengorbankan fisiknya tanpa mengeluh. Lihat Mario, dia selalu semangat bahkan selalu menyempatkan diri mengibarkan bendera kemenangannya sebagai penyemangat menuju stage baru dalam kehidupannya. Inilah rahasianya untuk selalu maju. Ia  punya gairah dan semangat untuk menatap ke depan serta tidak berhenti untuk mengeluh.

Mario tidak pernah tahu apa yang ada di depannya. Yang tahu adalah kita, yang memainkannya. Terkadang kita harus menempatkan diri kita seakan seperti Mario. Kita tak tahu yang bakal ada di depan kita, kita hanya melakukan yang terbaik yang kita bisa, menghindari pengulangan kesalahan, berjuang tidak setengah-setengah, dan bergairah akan apa yang kita kerjakan. Dan terakhir, yang pasti kita harus selalu yakin bahwa di depan kita itu ada yang indah dan layak kita perjuangkan, seperti Mario yang tidak tahu apa yang akan menghadangnya tetapi ia selalu tahu bahwa ada seorang putri yang menantikan uluran tangan pertolongannya.

Seperti halnya kita, sosok Mario adalah manusia seperti kita. Ia sadar ia lemah, sehingga ia selalu mencari perkuatan di setiap stage kehidupannya untuk bisa melewati rintangan dan hadangan yang ada di depannya. Mario melakukannya dengan mencari jamur yang bisa membesarkan ukuran tubuhnya yang kemudian setidaknya memampukannya menyikat semua binatang pengganggu. Kita harus belajar dari ini. Pertama, kita harus mengakui bahwa kita manusia adalah lemah. Kedua, kita harus senantiasa memperlengkapi diri untuk mendayagunakan kelemahan kita itu. Saya percaya Tuhan menciptakan manusia dengan kelemahannya masing-masing agar kita tidak sombong dan senantiasa mencarinya.

Mario adalah tukang ledeng tetapi dia tetap pahlawan. Kata Pahlawan belum mengalami peyorasi menjadi sekedar ‘penolong’. Pahlawan bukanlah hal yang kita definisikan pribadi melainkan diberikan orang lain sebagai penghargaan karena menjadi inspirasi bagi mereka.  Pahlawan juga tidak dilihat dari profesi. Profesi hanya memberi status baru dalam hidup kita tetapi besarnya jiwa kitalah yang membuat orang menyematkan kata pahlawan pada kita. Saya sangat setuju bahwa pahlawan itu tidak dilahirkan melainkan dibentuk, ditempa, dibakar dan disempurnakan melalui proses dalam hidupnya. Mario adalah salah satu contohnya. Dia bahkan benar-benar ditempa batu bata dan dibakar bola api. 


Tetap bersemangat dan Jangan manja! Beranilah berkorban untuk sesuatu yang baik!

Tetap bersyukur dan Jangan sombong! Tidak satupun yang kau capai adalah murni usahamu!

Selamat Hari Pahlawan. :)

0 comment(s):

Post a Comment