October 21, 2011

Bagaimana ceritamu belajar mengemudikan mobil? Menyenangkan? Asik? Berjalan tidak mulus di awal? Cerita saya mungkin hampir sama dengan kita pada umumnya sesuai dengan ketiga pilihan tersebut. Namun, cerita saya mungkin cukup menarik untuk tidak dicontoh. :p

Mobil pertama yang saya kemudikan adalah Toyota Kijang versi tahun 80an kalau tidak salah. Pelajaran pertama saya tidak dihadiri guru yang memenuhi SNI. Oh salah, maksud saya standar pengajaran. Yang pertama saya lakukan adalah belajar menyalakan mesin dan menjalankan mobil. Yeah! Tanpa guru, mobil itu bergerak maju sejauh 10 meter. Di halaman rumah. :p Oleh karena sudah berhasil dengan gerak maju, saya mencoba dengan gerak mundur. Yeah! Lagi-lagi tanpa guru, mobil itu bergerak mundur sejauh 10 meter. Kembali ke posisi awal yang tadi. :p

Pelajaran kedua saya adalah bergerak maju dan berpindah gear. Kali ini masih menggunakan lintasan yang bundar yakni di tanah kosong di dekat rumah. Yeah! Changing Gear? Piece of Cake! Lagi-lagi tanpa pendamping. Karena tak tahan menunggu terlalu lama, saya memberanikan diri membawa mobil tersebut keliling-keliling di perumahan. Kali ini harus membawa pendamping sebagai persyaratan penyerahan kunci mobil. hehe. Yeah! Satu mobil hampir disenggol. Dari satu mobil yang berpapasan dengan mobil saya. LOL Namun, tenang saja. Hampir kena berarti tidak kena. Santai!

Tak sabar dengan proses yang terlalu lama, *padahal baru belajar beberapa kali*  saya kemudian mencari jalan pintas. Ada orang yang bilang, belajar mengemudi mobil itu harus langsung di jalan raya agar cepat dapat feel-nya. Tak mengerti feel apa yang dimaksud tetapi tetap mengikuti saran itu karena setidaknya saran itu keluar dari orang yang sudah bisa mengemudikan mobil. Sebelum eksekusi ke lintasan, kepala berpikir lagi. Mungkin jika jalan rayanya lebih ekstrem, feel yang dimaksud bisa lebih cepat diperoleh. *random banget lah ini* haha. Fix! Jalan pintas ditemukan. Waktu itu kebetulan lokasi rumah dekat dengan jalan antarprovinsi. Segera berangkat tentunya dengan pendamping yang entah mengapa legowo saja menyetujui rencana ini.

Yeah! Baru saja maju 100 meter, mobil saya sudah berhenti di pinggir jalan. Berpapasan dengan truk dan kontainer yang notabene merupakan kendaraan 'dewasa' (re:Gede) dengan pengemudi veteran, mobil saya dan pengemudinya tak kuasa menahan rasa segan. :d Saya tahu kalau itu jalan antarprovinsi, tetapi saya tidak tahu kalau kelas kendaraan yang biasa melintas adalah sekelas truk, kontainer, pokoknya Heavy Vehicle menurut MKJI. hehe. Kok sepertinya ruas jalan itu  habis dipakai seluruh badan kendaraan mereka. Mata saya membohongi saya sepertinya. Pendamping saya waktu itu cuma tertawa dan kemudian membawa kami pulang ke rumah. Gila! Dapat banget feel-nya. Sampai sekarang saya jadi tidak mahir mengemudikan mobil. Rasa segan saya katanya masih terlalu tinggi. Haha. 

Memang yang namanya jalan pintas selalu berakhir jelek. Jalan pintas biasanya diambil orang-orang yang tak sabaran dan tak menghargai proses. Jangan lewat jalan pintas, lewat jalan yang normal-normal sajalah. :D


0 comment(s):

Post a Comment