June 20, 2011

the eagle
Beberapa waktu yang lalu saya menyaksikan sebuah film yang dirilis di tahun 2011 ini. Film ini mengambil latar masa kejayaan romawi yang menguasai hampir seluruh bagian eropa. Film ini mengisahkan tentang seorang pemuda yang berusaha mengembalikan nama baik keluarganya dengan cara menunjukkan kepemimpinan dan keberaniannya dalam menjadi komandan romawi. Film ini berjudul 'The Eagle'. Bukan kepemimpinan yang akan saya bagikan dalam tulisan saya ini karena ada hal yang lebih menarik daripada itu tersirat di dalamnya.

Sedikit gambaran mengenai kondisi saat itu, bangsa romawi sebelumnya memiliki sebuah lambang kehormatan dan keperkasaan berupa sebuah logam emas yang berbentuk elang dan disebut "THE EAGLE". Lambang kehormatan ini dirampas pada saat kekalahan perang belasan tahun sebelumnya. Bangsa Roma tidak berdaya menghadapi kaum kanibal yang berperang seperti hewan pada waktu itu. Ayah Aquilla (tokoh utama) adalah pemimpin batalion pada kekalahan itu dan hal itu menjadikan keluarganya menanggung malu akibat kekalahan dan terampasnya lambang kehormatan itu. Aquilla yang ingin memperbaiki nama baik keluarganya berencana merebut kembali lambang kehormatan itu ke markas kaum kanibal yang terletak di utara . Namun, kolega bahkan pamannya sendiri menertawakan rencana itu. Dialog penolakan inilah yang menarik bagi saya.

Aquilla: Aku akan mengambilnya kembali.
Paman: (*tertawa remeh*) Tak ada orang Roma yang mampu bertahan di daerah Utara sana.
Aquilla: Apa pernah ada yang mencoba?
Paman: Itulah militer, nak. Mencoba sama artinya dengan gagal.
Aquilla: Aku akan pergi mengambilnya!

Aquilla tahu bahwa itu adalah lambang kehormatan bangsa romawi saat itu dan kehilangan itu membuat bangsa romawi terutama keluarganya kehilangan kehormatan dan citra keperkasaan itu sendiri. Pada zamannya, seorang aquilla tahu bahwa "THE EAGLE" adalah sesuatu yang berharga dari bangsanya dan harus dikembalikan ke jati diri bangsanya lagi. Namun, sayang sekali hanya dia yang merasa menembus stereotipe turun temurun mengenai orang roma dan daerah utara adalah hal yang bisa dilakukan.

Hal yang sama bisa kita analogikan ke dalam bangsa kita, Indonesia. Kita tahu bahwa kita punya martabat dan kehormatan sebagai bangsa yang besar. Pendahulu kita sudah memateraikannya melalui perjuangan kemerdekaan ratusan tahun yang lalu. Ketika hasrat dan kepedulian akan kebesaran bangsa kita mulai surut, entah mengapa tidak jarang kita temukan pendapat yang sungguh mengecewakan, terutama bagi pendahulu kita.

"Ah, biar saja orang2 di bangku pemerintahan sana yang mikir. Saya ikut2 saja." atau "Sudahlah, ga ada lagi harapan bagi bangsa kita ini. Korupsi udah isinya semua. Tinggal nunggu dijual ajalah." atau "Mana mungkin kita bisa mengelola hasil bumi kita sendiri. Selain kita tak terlalu pintar, orang2 kita juga masih rendah moral semua." atau bahkan "Ga ada harapan lagi untuk Indonesia Maju".


Opini-opini yang sebenarnya hampir sama dengan yang diungkapkan pamannya Aquilla di film tersebut. Kita sebenarnya tahu bahwa kita punya potensi tetapi terkadang opini-opini menyerah dan stereotipe pesimis seperti ini membuat kita terpuruk. Menjadi negara maju memang bukan semudah membalikkan telapak tangan. Banyak juga cobaan dan tantangan. Namun, kitakan punya slogan Gotong Royong. Saya tahu, slogan ini diajarkan di bangku SD. Mungkin hal itu yang membuat kita mudah melupakannya.

*spoiler alert*
Aquilla pada film ini pada akhirnya mampu membawa kembali "THE EAGLE" tetapi dengan usaha dan pengorbanan yang begitu luar biasa. Bayangkan jika bangsa roma pada film ini berhasrat yang sama dengannya, akan lebih ringan tentunya usaha merebut kembali lambang kehormatan dan keperkasaan tersebut.
*spoiler alert*

indonesia majuJanganlah sampai kita menyerah atas Indonesia kita. Semangat dan kesatuan pendahulu kita masih ada. Kita hanya harus menyalakan apinya, terutama bagi kita mahasiswa sebagai generasi paling berpengaruh. Dimulai dari profesi kita masing-masing. Dimulai dari bidang-bidang kita masing-masing. Dimulai dari kegiatan kemahasiswaan universitas kita masing-masing. (bisa juga dibaca juga tulisan menarik teman dari ITB: http://yanesveritas.blogspot.com/2011/03/ketika-panggilan-itu-menunggu-itb-di.html)Meskipun kecil, tetap berguna bagi bangsa dan pada akhirnya kumpulan dari yang kecil akan menjadi sesuatu yang besar bagi bangsa kita. Berani keluar dari stereotipe yang menjurus pada kenyamanan diri sendiri semata. Peduli akan apa yang ada di depan mata.
Saya tidak menggurui, tetapi bercerita tentang isi hati dan kerinduan hati oleh karena saya sendiri juga masih belajar.
Tetap semangat, kawan-kawan. :)


pic: designerlistic.net

0 comment(s):

Post a Comment