May 6, 2011

mendobrak stereotipe
Apa itu stereotipe? dan mengapa judulnya saya beri tanda kutip. Karena memang itu adalah kutipan yang saya ambil dari seorang teman saya, Abram Sinaga. Secara harafiah, saya sendiri tidak mengerti apa yang dimaksud dengan stereotip yang disebutkan teman saya ini. Namun, kata ini begitu fenomenal dan terucap dari seorang yang fenomenal. haha. Apa sebenarnya stereotipe ini? dan mengapa perlu didobrak segala?

Selidik punya selidik, stereotipe ada dijelaskan sederhana di http://id.wikipedia.org/wiki/Stereotipe. Jadi, stereotipe adalah semacam prasangka yang berujung pada diskriminasi. Namun, sepertinya apa yang ingin disampaikan teman saya ini sudah mengalami efek generalisasi. Stereotipe bukan lagi sekedar diskriminasi. Jika diartikan secara luas, yang saya tangkap dari pernyataan dia kurang lebih sbb. stereotipe dapat diartikan sebagai suatu pola pikir yang terkekang dan sedikit bersifat dangkal. Jadi, tak heran mengapa stereotipe perlu didobrak.

Stereotipe membuat kita kebanyakan berjalan di tempat dan tidak maju bahkan berlari. Tahun ini, bersamaan dengan munculnya kata fenomenal ini, saya menemukan ternyata banyak sekali orang yang berpikiran sama dan hendak membaginya ke orang-orang. Seminar-seminar, acara televisi dan lain-lain. Semuanya berujung pada kesimpulan dimana pentingnya ada suatu dobrakan terhadap stereotipe yang ada. Contohnya, dengan saya bekerja di bidang Oil&Gas maka saya akan menjadi sangat kaya dan saya dapat dikatakan sukses dan berbahagia. Itu pemikiran yang hampir dimiliki setiap calon sarjana. Namun, kenyataannya Oil&Gas bukanlah jalan tunggal menuju keberhasilan dan kebahagiaan. Pola pikir yang lebih bijak sepertinya, dengan saya bergiat dan bersemangat pada apapun yang saya lakukan maka saya bisa menjadi sukses dan dengan begitu saya dapat berbahagia dengan apa yang saya miliki.

Hal yang sama ditunjukkan oleh sebuah slide dari CEO skillshare mengenai Learning Revolution. Pemikiran yang ada adalah bahwa dengan saya sekolah hingga memperoleh gelar sarjana maka saya dapat beroleh taraf hidup yang lebih baik. Beliau mengatakan, padahal jika demikian, dimana letak esensi pendidikan itu. Pendidikan adalah belajar atau dalam bahasa inggris 'Learning'. Jadi, menurut beliau, apa gunanya meraih gelar sarjana tetapi tidak menjiwai apa yang telah kita pelajari. Untuk lebih lengkapnya mungkin bisa dibaca sendiri. :D http://blog.skillshare.com/post/5100283758/lets-start-a-learning-revolution

Beberapa bulan lalu dalam acara Rossy Goes to Campus di Sabuga Bandung juga dikemukan sebuah pemikiran yang menjamur di mahasiswa bahwa politik bukanlah ranah yang menjadi lahan jamahan selain orang sospol. Kenyataannya, politik dapat digeluti setiap orang jika dia memang punya antusiasme dalam politik dan berbicara. "Jangan Takut Berpolitik", itulah yang sempat dikumandangkan pada acara itu. Saya cukup setuju dengan hal ini. Stereotipe politik menjadi begitu melekat dalam pemikiran generasi muda padahal di antaranya banyak yang memiliki potensi dalam hal ini. Padahal jika stereotip seperti ini dipatahkan, maka tentunya ada sebuah perubahan dalam dunia politik kita.

Jadi, dari beberapa peristiwa yang saya sampaikan di atas, stereotipe ternyata memang butuh didobrak karena menghalangi adanya suatu perkembangan dan inovasi kita. Jika orang entrepreneur memberi saran, "anda harus think out of the box" mungkin sedikitnya hal ini dapat kita jadikan pegangan juga dalam hal lain dalam hidup. Mendobrak stereotipe yang ada dapat membantu kita lebih kreatif dan berinovasi. Selama kita tahu batasan dan etikanya, saya rasa berpikir di luar kekangan itu sangatlah penting. Berpikirlah lebih dalam dan visioner. Mari sama-sama belajar demi Indonesia yang lebih baik. :)

Hanya opini biasa yang muncul seperti gelembung di tengah laut di tengah malam yang sunyi. :p

pic:zonaberita.com


0 comment(s):

Post a Comment