April 20, 2011

pendidikan-untuk-semua
Pendidikan. Sebuah kata yang sederhana tetapi bermakna dan berfungsi sangat luar biasa. Bagiku pendidikan adalah sebuah cara manusia untuk mengenal sekitarnya dan kemudian berbuat sesuatu untuk sekitarnya. Terkadang bisa positif tetapi terkadang sialnya bisa negatif. Perasaanku luluh lantah ketika aku untuk pertama kalinya menonton film 'Denias, Senandung Di atas Awan'. Ini film lama tetapi baru kali ini aku menyaksikannya sampai selesai. Kepada mereka yang mencari pendidikan itu dengan melewati ratusan kilometer dan ribuan rintangan, kepalaku tertunduk. Aku berharap aku punya mentari yang seterang mereka di dalam hatiku. Sinarnya yang begitu terang dan bernyala seperti yang disampaikan abah iwan dalam lagu 'mentari'. Memperlakukan pendidikan sebagai sebuah bongkahan emas yang dapat membawa mereka ke bulan.

Berkaca ke potret diri anak-anak sekolahan sekarang, dari sekolah dasar hingga ke perguruan tinggi, mayoritas dari kita kurang menghargai kesempatan mudah yang dimiliki. Untuk mencapai sekolah, tidak perlu meloncati sungai dan memanjat tebing. Terkadang saya berpikir, dengan mahalnya pendidikan di kota mungkin akan membuat orang-orang di perkotaan lebih menghargai kesempatannya menjadi kalangan terdidik. Namun sepertinya saya salah. Ada hal lain yang meredupkan sinar mentari yang ada di hati kita. Mungkin itu kemalasan atau bahkan ketidakpedulian. Sebenarnya jika kita berpikir bahwa apa yang kita tempa dalam diri kita melalui pendidikan ini dapat membawa pengaruh besar bagi orang-orang, maka mungkin bukan hanya di hati saja mentari itu akan bernyala tetapi persis di urat darah juga. Paradigma yang beredar sekarang adalah bahwa pendidikan itu berguna bagi diri kita saja. Padahal seperti yang saya sebutkan di awal bahwa pendidikan memiliki fungsi yang besar terlebih lagi untuk sesama.

Dulu, orang berpendidikan sangat disanjung dan diletakkan pada anak tangga tertinggi sebelum raja. Sangat dihormati dan disegani. Jumlahnya sedikit dan semua orang ingin seperti mereka. Sekarang, mungkin karena sudah terlalu banyak, jadinya membuat orang mencari tempatnya yang lain. Mungkin itu di anak tangga selanjutnya atau kedua selanjutnya atau dan seterusnya. Saat ini, khususnya di Indonesiaku, orang-orang mungkin sedang dilingkupi awan keputusasaan. Awan yang gelap yang meredupkan cahaya mentari tadi. Orang mulai berpikiran pendidikan tidak bisa membawanya kepada kesejahteraan hidup. Padahal, pendidikan merupakan salah satu alat yang dapat membawanya ke sana. Sebenarnya yang dibutuhkan adalah semangat dan doa karena harapan selalu ada. Ketika doa kita berjalan bergandengan dengan semangat, awan hitam tadi akan berubah mendatangkan hujan yang menyuburkan tanaman hati kita dan kemudian mendatangkan pelangi harapan itu ke depan mata kita.

Kata orang, pendidikan itu mahal. Saya setuju. Zaman sekarang memang membutuhkan si-angka-ajaib dalam jumlah yang cukup besar untuk memperoleh pendidikan yang layak. Namun, bagiku bukan itu definisi mahalnya pendidikan. Nilai atau esensi pendidikan yang membuatnya mahal. Mungkin sama dengan yang sering dikatakan orang-orang di balik meja kantor, "Intangible Value". Nilai uangnya yang mahal hanyalah merupakan efek dari kurangnya perhatian pada penyediaannya. Seberapa banyakpun uang yang dibutuhkan untuk memperoleh pendidikan itu, pasti ada jalan jika orang benar-benar mencarinya dengan sungguh. Sejak dulu, saya yakin bahwa pendidikan itu selalu ada bagi mereka yang membutuhkan dan mencarinya.

Semoga ke depannya, mentari itu akan/tetap bernyala terik dalam hati setiap bangsa Indonesia. Untuk bangsa ini dan untuk tanah air tercinta. :)

1 comment(s):