March 13, 2011

Serving God, Clean their feet
Melayani adalah sebuah anugrah. (baca terkait) Kita tidak memilih untuk melayani dimana/apa/kapan melainkan Tuhan memilih kita untuk melayaniNya. Hal ini berarti kita melayani atas dasar motivasi memenuhi panggilan Tuhan dan memberikan persembahan yang terbaik dari apa yang kita punya. Permasalahannya adalah ketika keinginan manusiawi menggeser hakekat dari melayani tadi. Motivasi yang salah menjadi landasan kita dalam melayani dan persembahan kita menjadi kotor karena motivasi buruk itu.

Markus 12:41-44
12:41 Pada suatu kali Yesus duduk menghadapi peti persembahan dan memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti itu. Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar. 12:42 Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua peser, yaitu satu duit. 12:43 Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. 12:44 Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya."


Hal pertama yang mau saya bagikan yang diajarkan melalui perikop di atas adalah bahwa ketulusan hati dan motivasi yang benarlah yang menjadikan persembahan kita harum di hadapan Tuhan (sama halnya dengan peristiwa Kain dan Habel). Melayani bukanlah suatu hal yang dilakukan dengan motivasi setengah baik, seperempat baik, cukup baik tetapi melayani adalah suatu hal yang memang harus kita lakukan dengan movitasi yang sepenuhnya baik. Kita bisa saja ditempatkan dan melayani dimana-mana hingga orang mengatakan kita super tetapi Tuhan melihat ketulusan hati yang menjadi motivasi. Hal itulah yang Tuhan ajarkan melalui potret janda miskin di perikop di atas. Apa yang kita pikirkan ketika kita serba berkekurangan? Menyimpan apa yang ada, bukan? Sebaliknya, janda ini justru dengan tulus memberikan dari kekurangannnya. Kita bisa melihat ketulusannya dari tidak adanya rasa minder ketika ia datang ke bait Allah dan memberi persembahan di antara orang-orang kaya itu. Namun, paradigma yang salah lagi adalah ketika memberi banyak (melayani banyak) dikatakan tidak perlu. Kembali lagi ke motivasi kita masing-masing.

Kedua, aku belajar bahwa kita sebagai manusia tidak memiliki kapasitas apapun dalam menilai (re:menghakimi) sesama. Seperti halnya yang ada di Yohanes 8 tentang perempuan yang berzinah, tetapi dalam perikop ini konteksnya bukan dosa melainkan persembahan. Kadang-kadang sadar ataupun tidak sadar, kita akan mulai melihat dan membanding-bandingkan pelayanan yang kita lakukan terhadap yang orang lain lakukan. Ketika melihat orang yang melakukan sedikit, kita akan merasa lebih hebat. Namun, Tuhan menganugrahkan kita pekerjaan pelayanan sesuai dengan apa yang kita punya. Lantas siapa kita yang berhak menilai besar kecilnya pelayanan yang dilakukan orang lain. Mari kita kerjakan saja bagian kita dengan baik dan dengan motivasi yang benar.

Inti dari kedua poin di atas kembali lagi pada persekutuan pribadi dengan Tuhan. Semakin intim kita dengan Tuhan, semakin kita mengenalNya, semakin kita tahu apa yang menyenangkan/menyakitiNya dan semakin kita peka terhadap panggilanNya. Bagaimana persekutuan pribadi kita saat ini dengan Tuhan?! (baca terkait)

0 comment(s):

Post a Comment