March 19, 2011

hiduplah indonesia raya



Tulisan di bawah ini saya ikutsertakan dalam Lomba Essay Panggung Rakyat ITB, Maret 2011. Hasil penilaian yang diberikan juri tidak terlalu memuaskan yang berarti harus lebih banyak belajar lagi. :) hehe.
Semoga berguna.




PERAN MAHASISWA DALAM MENEKAN DISPARITAS YANG MENGHAMBAT PEMBANGUNAN NASIONAL
Oleh:
Reynaldo
15007164
Mahasiswa Teknik Sipil 2007, Institut Teknologi Bandung


Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki PDB (Pendapatan Domestik Bruto) yang sangat besar. Data terakhir menunjukkan bahwa Indonesia menduduki peringkat 16 dunia (World Bank, 2010). Hal ini otomatis membuktikan Indonesia pada dasarnya adalah negara dengan volume ekonomi yang besar. Dengan volume ekonomi yang besar seperti ini seharusnya negara ini sudah melangkah maju menjadi negara maju. Namun, apa yang menjadi kenyataan saat ini? Negara ini masih menyandang status sebagai negara berkembang. Indonesia seakan-akan berjalan lambat di trek cepat. Ironis bukan?

Dimana letak kesalahan kita? Beberapa bulan lalu Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Armida S. Alisjahbana melalui media mengatakan bahwa inti permasalahan pembangunan nasional terletak pada tingginya disparitas (kesenjangan) antarwilayah. Kesenjangan jelas terlihat ketika kita melihat kegiatan ekonomi, infrastruktur dan tingkat kemiskinan di sejumlah daerah yang begitu timpang. Indonesia memang negara dengan volume ekonomi yang patut diperhitungkan oleh dunia tetapi Indonesia juga merupakan negara dengan range tingkat perekonomian per kapita yang sangat besar. Secara kasarnya, yang kaya adalah kaya sekali dan yang kurang mampu adalah sangat kurang mampu.

Menurut saya, penyebab terjadinya disparitas antarwilayah seperti ini adalah kurangnya minat dari masyarakat terutama pelaku ekonomi di kota besar untuk memperhatikan dan mengembangkan daerah-daerah dengan notabene bukan pusat bisnis ataupun jauh dari pusat bisnis. Saya mengambil daerah pesisir sebagai contoh. Indonesia merupakan negara kepulauan dengan luas wilayah perairan yang sangat besar. Hal ini pula yang menyebabkan kita memiliki potensi wilayah pesisir yang sangat besar. Daerah pesisir dapat dijadikan pusat wisata, perikanan hingga pembangkit energi. Negara Belanda dengan wilayah pesisir yang seadanya seperti itu saja bisa mencukupi kebutuhan energi listriknya dengan energi pasang surut di pesisir. Sangat disayangkan, di negara kita energi listrik malah merupakan isu yang mencemaskan. Daerah pesisir hanyalah salah satu contoh dari sekian banyak kenyataan yang terjadi di negara kita. Masih banyak daerah-daerah lain yang tidak mendapatkan perhatian dan jamahan tangan bangsa ini. Untungnya, saat ini concern terhadap daerah pesisir mulai ditunjukkan pemerintah dengan membuat sebuah kementrian yang mengurus dan memperhatikan daerah pesisir.

Penyebab turunan yang muncul dan tertangkap kaca mata publik tentunya adalah adanya campur tangan asing yang terlalu banyak dan cenderung di posisi-posisi penting. Tidak sedikit daerah-daerah tertinggal di Indonesia malah menjadi lahan bagi pengembangan bisnis pihak asing yang masuk ke Indonesia. Hal ini tidak terlepas dari kesalahan kita yakni kurangnya minat dan inisiatif terhadap daerah berpotensi tadi. Pihak asing mungkin melihatnya sebagai gunung emas sehingga mereka segera datang dan mulai membuat kerja sama. Sedangkan, kita melihat tanah kita sendiri sebagai gunung biasa dan kita menunggu ada orang yang mau memeriksa apakah itu dapat dijadikan sesuatu yang berharga. Kita terlalu banyak menunggu dan mengharapkan inisiatif orang lain. Padahal kita dapat memperoleh hasil yang lebih maksimal apabila kita bisa mengembangkanya sendiri terlebih dahulu.

Selain disparitas yang tinggi, ada empat alasan menurut Lauer (1993) mengapa pembangunan menuju negara maju sukar dicapai. Satu di antaranya adalah kurangnya teladan dari pemimpin yang ada. Teladan akan apa? Teladan akan pengorbanan bagi kepentingan pembangunan negara. Dalam proses negara berkembang, rakyat akan dituntut banyak melakukan pengorbanan akan kepentingan pribadinya agar pembangunan itu dapat terlaksana dengan efektif. Sebagai contoh, pemerintah menuntut adanya pengorbanan dari kaum petani untuk semakin giat dan semangat dalam mengembangkan industri pertaniannya. Sementara, pemerintah malah sibuk mengurusi kenyamanan pejabat pemerintah dalam bekerja. Seharusnya ada teladan yang ditunjukkan oleh pemerintah dimana pejabat mau berkorban dan lebih concern pada melayani masyarakat. Pejabat memang manusiawi jika ingin dihargai tetapi kerendahan hati dalam melayani lebih penting daripada keinginan untuk dihargai itu.

Sampai sejauh ini pembahasan di atas, saya menarik 3 hal yang menjadi fokus, yakni kepedulian, inisiatif dan teladan yang rendah hati. Dimana letak kepedulian yang dimaksud? Saya tidak akan jauh-jauh mengambil contoh ke pejabat lagi karena kepedulian itu seharusnya dimulai dari sini, dari kalangan terdidik. Kalangan terdidik adalah kalangan yang telah menerima asupan pendidikan. Apa esensi dari pendidikan sebenarnya? Seseorang diberikan pendidikan agar dapat menjadi orang yang lebih baik dalam akhlak, pola pikir dan kesejahteraan serta nantinya mampu membawa orang lain memperoleh yang lebih baik dalam akhlak, pola pikir dan kesejahteraan. Namun, ironis bahwa yang terjadi saat ini adalah pendidikan dijadikan batu loncatan memperoleh tujuan bagi diri sendiri saja, tidak melanjutkannya kepada tujuan bagi orang lain juga.

Mahasiswa sekarang ini jika ditanya tentang tujuannya nanti setelah lulus maka mayoritas jawabannya adalah bekerja di industri migas, pertambangan, perusahaan asing dan Bank. Apakah ini salah? Tentu tidak, setiap orang memiliki kebebasannya untuk memilih jalan hidupnya. Namun, dari jawaban-jawaban itu saja sudah terlihat bahwa pola pikir sebagian besar mahasiswa saat ini adalah bagaimana menghasilkan uang yang banyak dan memperoleh hidup yang sejahtera. Jika begini, bagaimana dengan nasib yang tertinggal? Terang saja masih banyak daerah-daerah kita yang tertinggal ataupun tidak dikembangkan, orang-orang yang diharapkan men-handle itu malah kebanyakan memilih mengembangkan dirinya sendiri saja. Saya tidak lantas mengatakan bahwa kita semua lulusan sarjana harus turun ke daerah-daerah untuk mengembangkan daerah. Namun, saya mengatakan bahwa dengan menerima bekal pendidikan seharusnya kita sudah mengerti bahwa tujuan kita ke depannya tidak hanya terhadap diri kita sendiri tetapi juga kepedulian terhadap orang lain. Seperti yang disebutkan di awal tadi bahwa disparitas terjadi karena kurangnya kepedulian dan perhatian. Oleh karena itu, kita yang merupakan civitas akademika dengan notabene berkalungkan tulisan ‘kalangan terdidik’ haruslah punya awareness yang tinggi. Salah satu contohnya adalah kembali ke daerah asal kita ataupun ke daerah tertinggal untuk membangun potensi yang telah ada di sana. Ilmu pengetahuan tidak akan sia-sia dimanapun kita ditempatkan.

Poin kedua adalah inisiatif. Pembangunan memerlukan inisiatif yang tinggi. Dimana keterkaitannya? Dan dimana letak peran kita sebagai civitas akademika? Ilmu pengetahuan yang diperoleh di bangku perkuliahan tentunya sangat berguna apabila diimplementasikan dalam kehidupan nyata. Sebaliknya, ilmu itu hanya akan menjadi benda mati jika kita hanya menyimpannya. Riset yang dilakukan di universitas-universtas mungkin bagi sebagian orang terlihat seperti sesuatu yang biasa dan tidak terlalu memberikan pengaruh penting pada pembangunan di Indonesia. Terkadang, apa yang diteliti seakan-akan merupakan hal yang tidak terlalu penting. Namun, secara kasat mata sebenarnya riset-riset yang dilakukan di perguruan tinggi maupun lembaga adalah salah satu yang membawa kita maju sedikit demi sedikit menuju negara maju. Oleh karena itu, perlu inisiatif yang tinggi dari setiap kalangan akademis untuk melakukan riset-riset ini. Bahkan ketika kita masih menjabat sebagai mahasiswa, kita dapat berkontribusi melalui penelitian yang kecil-kecilan sekalipun. Kembali pada pernyataan di atas bahwa yang terpenting adalah kita sudah berinisiatif untuk melakukan riset tersebut dan setiap riset yang dilakukan pastinya ada kegunaannya.

Yang terakhir adalah teladan yang rendah hati. Menurut saya, masyarakat saat ini tidak lagi mempan dengan terus menerus diberikan penyuluhan dan himbauan-himbauan yang berupa bahasa lisan maupun tulisan. Begitu banyak tulisan, “kita harus bangkit dan membangun negara kita” , “mari memajukan bangsa” dan lain lain. Yang orang butuhkan saat ini adalah teladan dan teladan yang paling efektif biasanya adalah pemimpin. Sekali lagi, hal ini bukan berarti bahasa lisan dan tulisan itu tidak penting tetapi kecenderungan zaman sekarang ini menuntut adanya teladan. Pemimpin itu darimana datangnya? Umumnya pemimpin-pemimpin yang ada di Indonesia bahkan dunia berasal dari kalangan terdidik. Oleh karena itu, kita sebagai mahasiswa mulai dari saat ini seharusnya dapat menjadi teladan. Jika kita rindu akan adanya pembangunan yang merata, maka kita tunjukkan dengan bukti nyata bahwa kita rindu hal itu tercapai. Jika kita rindu akan adanya negara Indonesia yang maju maka kita tunjukkan dengan kontribusi nyata bahwa kita rindu hal itu benar terjadi. Kita, mahasiswa, harus mengingat bahwa kita adalah agent of change. Di samping itu, kita harus tetap menjaga kerendahan hati dan mengurangi arogansi yang berlebihan serta idealisme yang tak berdasar. Dengan karakter seperti ini, akan tercipta teladan yang sempurna.

Aspek teknis mungkin sudah terlalu lengkap jika ingin dibahas tetapi aspek psikis dari bangsa kitalah yang menyebabkan ketertinggalan sampai saat ini. Oleh karena itu, menurut saya, pembangunan itu terjadi apabila rakyatnya telah dewasa secara pola pikir dan parameter kedewasaan itu bagi saya adalah ketiga fokus yang telah saya tuliskan di atas tadi. Semoga dengan tulisan singkat ini, kita semakin sadar akan pentingnya peranan kita sejak saat ini dan semakin memicu kita untuk menjadi rakyat yang dewasa. Demi pembangunan Indonesia. Sekian.

0 comment(s):

Post a Comment