February 28, 2011

Jalan sumur Bandung adalah salah satu ruas jalan yang saya lewati hampir setiap hari. Baik itu ketika saya hendak ke kampus ataupun hendak berkunjung ke kosan teman. Jalan ini tidak begitu lebar tetapi volume kendaraan yang menjadi tanggungannya lumayan besar khususnya di waktu tertentu. Jalan ini terletak sangat dekat dengan simpang dago.

Yang menarik dari ruas jalan ini adalah kondisinya yang rentan dengan keburukan. Baik itu dari segi kerusakan perkerasannya maupun dari kemacetan yang timbul di atasnya. Pertama kali saya berada di Bandung yakni 3,5 tahun yang lalu, kondisi jalan ini sudah bolong-bolong sedikit. Beberapa kali mengalami pemeliharaan tetapi saat ini kondisinya masih bolong lagi.

kerusakan jalan di jalan sumur bandungkerusakan jalan di jalan sumur bandung(2)Jalan ini juga selalu mengalami kemacetan. Sama halnya dengan perkerasannya, sepengelihatan saya sejak 3 tahun yang lalu ketika saya datang juga jalan ini sudah seperti itu. Pada jam tertentu, kecepatan rata-rata kendaraan yang melintas di atasnya bisa sangat kecil.

Untuk setiap keburukannya tentu ada alasannya. Berdasarkan diskusi, bacaan, ceramah dan kuliah, saya mencoba menuliskannya di bawah ini.
retak refleksiPertama, mengenai kerusakan perkerasan/aspalnya. Hal ini disebabkan oleh peristiwa retak yang disebut dengan retak refleksi. Retak refleksi merupakan terjadinya retak pada lapisan aspal yang di atasnya akibat adanya retak di lapisan aspal sebelumnya. Jadi, retak tersebut terjadi karena retak dari lapisan aspal sebelumnya 'menjalar' ke lapisan overlay (lihat gambar). Umumnya hal ini terjadi karena lapisan sebelumnya rusak akibat retak tetapi tidak diperbaiki sebelum di-overlay/lapis tambahan. Dalam kasus Jl. Sumur Bandung, jalan ini memang sudah beberapa kali mengalami overlay sehingga besar kemungkinan kerusakan yang terjadi terus menerus di perkerasannya diakibatkan oleh retak refleksi.

Solusinya, dapat dilakukan dengan penambalan yang rapih. Daerah yang bolong dibongkar lalu ditambal dengan campuran yang lebih fleksibel, bukan langsung ditambal tanpa adanya pembongkaran. Jika ingin dilakukan overlay lagi, maka haruslah sebelumnya juga dilakukan penambalan seperti yang disebutkan tadi.

Kedua, masalah kemacetan. Penyebabnya sederhana, yakni penyalahgunaan badanjalan. Seperti yang terlihat pada gambar bahwa badan jalan yang seharusnya memiliki 2 lajur hanya dapat dipakai 1 lajur. Kapasitasnya seharusnya bisa melayani volume kendaraan yang melintas pada saat ini tetapi itu tidak terpenuhi karena berkurangnya lajurnya. Hal ini tentunya mengurangi efisiensi jalan yang kemudian berimplikasi pada kemacetan.

masalah on-street parking di jalan sumur bandung(2)masalah on-street parking di jalan sumur bandung
Solusinya, menurut saya, kesadaran dari yang punya kendaraan tersebut. Area tersebut adalah pusat bimbingan belajar dan rumah makan, tetapi tidak seharusnya memarkirkan kendaraannya di badan jalan seperti itu. Jika mungkin, bisakah diadakan kebijakan ataupun pengawasan mengenai penggunaan badan jalan tersebut? hehe. Atau, pengadaan area parkir di sekitar lokasi tersebut. Opsi ini mungkin bisa menjadi solusi dari kemacetan di ruas jalan tersebut.

Catatan Kecil dari seorang mahasiswa. :p
Sekian.

NB: kualitas gambar yang disajikan tidak bagus karena memang diambil dengan kamera dan cuaca yang tidak begitu mendukung :)

0 comment(s):

Post a Comment