January 20, 2011

safety-ridingAku bukan seorang pengendara mobil ataupun sepeda motor meskipun aku memiliki Surat Izin Mengemudi. Boleh dikatakan, aku hanyalah seorang penumpang. Menumpang pada angkutan kota maupun kendaraan pribadi milik teman dan kerabat. Sebagai seorang penumpang, keselamatan kita dalam berkendara tidak menjadi beban pribadi melainkan beban supir atau pengendara kendaraan tersebut. Sebagai penumpang biasanya tekanan dalam berkendara akan lebih kecil daripada
'nakhoda'-nya. Namun, justru dari bangku penumpang itulah aku sering berpikir tentang betapa seorang supir/pengendara haruslah memiliki awareness
yang sangat tinggi terhadap orang lain.

Awareness apa yang dimaksudkan?
Ketika kita berkendara, kita secara tidak langsung bertanggung jawab atas hidup orang-orang yang kita bawa. Terlebih lagi, atas diri kita sendiri. Tentunya kita semua sadar dan tahu akan hal itu. Namun, mungkin tidak semua mengerti. :( Hal ini dapat terlihat di jalanan. Dengan lalulintas kota yang semakin lama semakin padat, masih saja terlihat pengendara-pengendara yang kebut-kebutan bahkan tanpa menggunakan perlengkapan keselamatan yang lengkap atau setidaknya minimum. Yang sebenarnya harus dimengerti adalah berkendara itu termasuk belajar menghargai hidup. Bukan hanya hidup kita sendiri tetapi juga orang lain. Setiap tindakan kita yang membahayakan keselamatan diri kita dalam berkendara tentunya berimplikasi pada membahayakan keselamatan orang yang kita bawa. Anggaplah ini sebagai cara kita belajar mensyukuri apa yang kita peroleh dan belajar mengajarkan orang lain untuk mensyukuri hidup juga. Dengan berperilaku aman di jalanan tentunya mengurangi resiko kecelakaan. Memang, nasib hidup itu di tanganNYA, tetapi kita tidak diajarkan juga untuk bermain-main dengan keselamatan hidup. Benar bukan. :)

Dalam berperilaku aman di jalan raya akan sangat banyak rintangan karena selalu ada saja sebagian kecil dari golongan masyarakat yang masih keras kepala dengan perilaku membahayakan di jalanan. Namun, kembali lagi pada diri kita masing-masing. Kita punya akal dan pikiran, apakah kita mau mengikuti perilaku yang membahayakan seperti itu? Seharusnya tidak. Biarkan saja orang lain masih ada yang tidak menerapkan Safety Riding dalam kehidupan lalulintasnya. Kita mulai dari kedisiplinan diri sendiri sehingga kemungkinan besar orang-orang tersebut akan menerima pengaruh positif yang kita lakukan dan selanjutnya melakukan hal yang sama dengan kita. :) Terkesan tidak efektif tetapi hal itu benar dan kenyataannya memang teladanlah yang dibutuhkan orang di zaman sekarang ini. :)

taatilah peraturan lalulintasBelajar menghargai hidup dengan safety riding bukanlah suatu hal yang sulit, bahkan setiap harinya kita dibantu oleh berbagai peraturan dan badan penyelenggara lalulintas. Peraturan mengenai perlengkapan keselamatan, mengenai lajur berkendara, mengenai kecepatan maksimum, polisi lalulintas dan lain-lain, itu semua membantu kita belajar menghargai hidup. Ada guyonan berbunyi, "Peraturan dibuat untuk dilanggar". Namun, saya mengatakan bahwa itu tidak berlaku sama sekali untuk keamanan berkendara. Ketika kita masuk ke jalan raya, yang kita pertaruhkan terbesar bukanlah waktu dan uang tetapi nyawa. Jadi, maukah kita 'berguyon' dengan nyawa. haha. Tentunya tidak. Jadi, taatilah peraturan yang berlaku, saudara.

Berkendaralah dengan aman.
Hidup itu terlalu berharga untuk disia-siakan hanya karena kelalaian dalam perlengkapan dan berkendara.
Ingatlah, kecelakaan lalulintas mayoritas terjadi karena kelalaian pengendara.



Semoga berguna.
^_^

0 comment(s):

Post a Comment