September 11, 2010

Mungkin banyak orang berbicara mengenai kepedulian tetapi tidak memandang hal kecil sebagai bagian dari kepedulian. Sebagai contoh, memilah sampah kita di rumah, menanam pohon di halaman kita , dan yang paling menarik dan akan saya bahas di sini adalah memilih tempat memberhentikan angkutan umum. :D

Beberapa minggu yang lalu saya dan teman saya beranjak hendak pulang ke kosan masing - masing. Ada satu hal yang membuat saya tidak nyaman waktu itu. Untuk memberhentikan angkutan umum, kami berdiri di pinggir jalan. Yah, itu hal biasa. Namun, yang tidak biasa menurut saya adalah karena kami berdiri di sisi jalan yang hanya memiliki 2 lajur dan dapat digolongkan sebagai jalan yang sempit (*hanya muat 1 kendaraan untuk masing - masing lajur). Mungkin kebanyakan orang menganggap ini hal yang biasa dan tidak penting untuk dibahas. Namun menurut saya ini adalah suatu hal yang akan sangat berpengaruh besar pada lalu lintas dan keberlangsungan jalan itu sendiri.

Saya adalah mahasiswa teknik sipil dan kebetulan sedang mengambil tema besar di bidang rekayasa transportasi. Sedikit berbicara mengenai jalan. Jalan itu tersusun atas lapisan aspal, agregat dan tanah dasar. Ketika seorang insinyur mendesain perkerasan jalan sebenarnya apa yang ia desain? Sebuah jalan didesain berdasarkan jumlah kendaraan yang akan lewat secara periodik di jalan tersebut. Tidak hanya itu, jalan juga didesain berdasarkan lamanya beban kendaraan itu berada di atas perkerasan jalan. Secara praktis, jalan didesain dengan memperkirakan durasi kendaraan membebani suatu ruas jalan. Sebagai informasi lagi, jalan didesain untuk 10 tahun bukan berarti dia akan bertahan selama 10 tahun. Mengapa? Hal ini sesuai dengan yang saya sebutkan sebelumnya dimana jalan itu didesain berdasarkan perkiraan akan jumlah kendaraan. Jika yang terjadi di lapangan ternyata tidak sesuai akibat 'keliaran' lalu lintas maka jalan tersebut mungkin saja tidak memenuhi jangka waktu yang ditetapkan dalam desain. Jadi, jalan itu punya umur yang ditentukan oleh kendaraan yang lewat tadi. Hal ini disebut sebagai kelelahan (fatigue) :) Dapat diambil salah satu kesimpulan yakni lamanya sebuah kendaraan berada di atas suatu ruas jalan akan mempengaruhi umur jalan itu sendiri. :)

Apa hubungannya dengan tempat memberhentikan angkot tadi? :D
Jelas sudah. Perhatikan saja contoh yang terjadi pada saya di atas. Ketika kita memberhentikan angkot di kondisi jalan yang seperti itu maka kemungkinan besar kendaraan yang ada di belakang angkutan umum itu akan berhenti menunggu angkutan umum ini untuk maju. Atau dalam kata sederhana bisa disebut macet. :p Ketika kemacetan terjadi maka durasi mobil untuk berada di suatu ruas jalan akan bertambah dan bisa dipastikan memberi beban yang lebih lama kepada jalan tersebut. Seperti yang saya sebutkan di atas, hal itu akan mempercepat terjadinya kelelahan jalan itu sendiri. Jika hanya satu atau dua kali saja dalam sehari mungkin akan sangat kecil pengaruhnya, tetapi melihat kondisi jalan sekarang yang macet karena kendaraan2 yang berhenti sesuka hati di jalan bisa dipastikan pengaruh durasi kendaraan ini akan sangat terlihat.

Ketika jalan sudah lelah, maka yang terjadi adalah kerusakan seperti bolong2. Jika sudah begini biasanya pengendara kendaraan akan komentar sana sini dan mengeluh. Namun, sadarkah kita dari hal sederhana seperti memilih tempat memberhentikan angkutan umum saja akan berdampak besar bagi orang lain dalam hal ini kenyamanan jalan. :D Alangkah baiknya jika kita meningkatkan kepedulian kita dari hal - hal yang kecil sekalipun karena tanpa kita sadari sebenarnya hal itu dapat memberi dampak yang besar bagi orang - orang dan lingkungan sekitar kita. :)
Yuk, mari kita saling mengingatkan akan kepedulian sekitar kita. ^_^

Sekian.
Semoga berguna dan menjadi berkat. :)

0 comment(s):

Post a Comment